Ekraf

Gen Z Banda Aceh Bikin Budaya, Melestarikan Tradisi Lewat Industri Kreatif

×

Gen Z Banda Aceh Bikin Budaya, Melestarikan Tradisi Lewat Industri Kreatif

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Di tengah derasnya arus digitalisasi, ketika dunia serba cepat dan budaya global mudah menyelinap lewat layar ponsel, sekelompok anak muda di Banda Aceh justru memilih arah sebaliknya: menengok ke belakang, menggali akar, lalu menanam kembali nilai-nilai tradisi dalam bentuk yang lebih segar—melalui industri kreatif.

Mereka tak sekadar melestarikan, tapi menghidupkan budaya lewat ide, karya, dan kolaborasi. Pemerintah Kota Banda Aceh pun mendukung langkah itu lewat berbagai program ekonomi kreatif yang menjangkau anak-anak hingga penyandang disabilitas, agar budaya tak hanya jadi pelajaran di buku sejarah, tapi sesuatu yang bisa dirasakan dan dijalani.

“Kita ingin anak-anak itu merasakan budaya Aceh, bukan hanya tahu. Mereka bisa menyentuh, berkreasi, dan membangun rasa bangga lewat pengalaman langsung,” ujar Iin Muhaira, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh.

Salah satu langkah nyatanya adalah program tahunan “Saweu Gampong”, yang melibatkan para Duta Wisata Banda Aceh. Kegiatannya sederhana tapi bermakna: mengajak anak-anak usia 10 tahun hingga remaja SMA untuk mengenal pariwisata dan budaya Aceh secara langsung.

Di Rumah Singgah Anak Nanggroe (RSAN), misalnya, anak-anak dari keluarga rentan diajak belajar tentang keberanian, kreativitas, dan jati diri lewat kegiatan budaya.
“Banyak dari mereka yang kehilangan semangat karena masalah keluarga. Kami hadir untuk menyalakan lagi rasa percaya diri itu lewat karya dan interaksi,” kata Iin.

Bukan cuma di RSAN, kegiatan serupa juga dilakukan di Desa Wisata Lampulo, kawasan yang menyimpan kisah tsunami. Di sana, anak-anak diajak membuat miniatur bangunan tsunami dari kertas 3D, agar sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tapi pengalaman yang hidup dalam imajinasi mereka.
“Dengan begitu, mereka tahu sejarah Aceh bukan dari buku, tapi dari tangan mereka sendiri,” tambahnya.

Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh memang menjadi simpul berbagai budaya dari seluruh penjuru daerah. Tak punya satu kuliner khas memang, tapi kota ini adalah “etalase rasa” Aceh yang lengkap.
“Kita punya semua. Misalnya Keumamah dan Kuah Beulangong dari Aceh Besar—semuanya bisa ditemukan di Banda Aceh,” ujar Iin.

Festival seperti Aceh Culinary Festival pun menjadi panggung bagi ragam kuliner tradisional dari kabupaten lain. Tapi bukan sekadar makan-makan, ada nilai sejarah dan identitas yang disisipkan: dari asal-usul rempah, pengaruh Gujarat, Arab, hingga Tiongkok dalam masakan Aceh. Di situlah pelestarian budaya menemukan bentuk barunya—melalui cita rasa dan kreativitas.

“Cinta budaya itu bukan cuma pakai baju adat waktu upacara. Tapi bagaimana kita merawat dan mengembangkannya lewat cara yang relevan hari ini,” tutur Iin.

Kini, Banda Aceh memiliki puluhan pelaku ekonomi kreatif di bidang fesyen, kuliner, fotografi, kriya, hingga digital. Mereka bukan hanya pelaku usaha, tapi penjaga identitas—membungkus tradisi dalam kemasan yang menarik bagi generasi muda.

Salah satu contohnya adalah Niva Adillah, kreator muda yang memadukan budaya Aceh dengan nuansa Jepang lewat konten vlog “Sanposhimashou” (artinya: ayo jalan-jalan!). Sejak 2018, Niva aktif di Instagram, TikTok, dan YouTube untuk mengenalkan Aceh ke audiens Asia Timur.

“Aku ingin teman-teman di Jepang tahu bahwa Aceh punya budaya yang keren dan bisa dikemas dengan gaya yang dekat dengan mereka,” katanya.

Dalam setiap kontennya, Niva menenun dua dunia: nilai-nilai budaya Aceh dan sentuhan visual khas Jepang. Hasilnya? Segar, menarik, dan tetap berakar.

“Konten yang paling disukai itu biasanya yang tetap bawa budaya Aceh tapi dibalut dengan ciri khasku—pakai bahasa Jepang,” ujarnya sambil tersenyum.[***]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Ekraf

Habanusantara.net – Dari bahan sederhana yang biasa ditemukan di dapur orang Aceh, kini lahir aroma mewah yang siap mencuri perhatian pasar nasional. Janessence Aceh, varian terbaru dari Geutanyoe Perfume, parfum…

Songket motif Pha Changgeuk karya Mutiara Songket | foto: dok Mutiara Songket
Ekraf

Habanusantara.net – Tenun songket selama ini dikenal sebagai warisan budaya yang sarat makna, penuh simbol, dan bernilai tinggi. Namun bagi Ira Mutiara, Owner Mutiara Songket, tenun bukan hanya tradisi turun-temurun,…

Ekraf

Habanusantara.net – Di sebuah rumah sederhana di Krueng Kalee, Darussalam, Aceh Besar, disanalah seorang anak muda, Ira Mutiara, menenun benang demi benang dengan penuh kesabaran. Selama ini, di balik kelembutan…

close