Ekraf

Disbudpar Ajak Anak Muda Banda Aceh Jadi Pelaku Utama Ekonomi Kreatif Digital

×

Disbudpar Ajak Anak Muda Banda Aceh Jadi Pelaku Utama Ekonomi Kreatif Digital

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Di tengah geliat digital yang makin kencang, generasi muda Banda Aceh kini didorong tak sekadar jadi penonton, tapi pelaku utama di panggung ekonomi kreatif digital.

Pemerintah lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh melihat potensi besar Gen Z daerah ini—cerdas, cepat tangkap, dan akrab dengan dunia online—namun masih banyak yang belum tahu bagaimana menjadikan kreativitasnya bernilai ekonomi.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Banda Aceh, Iin Muhaira, menyebut banyak anak muda yang sudah lihai membangun self-branding, tapi belum punya produk nyata yang bisa dijual ke publik.

“Mereka punya ide, punya gaya, tapi belum punya arah. Di sinilah kami ingin masuk, membimbing mereka agar potensi itu bisa jadi kekuatan ekonomi,” katanya.

Langkah itu diwujudkan lewat program Ruang Kreatif di bawah payung Ekraf Go Digital, yang mulai dijalankan sejak akhir 2024. Program ini bukan sekadar pelatihan, tapi tempat anak muda berkolaborasi, berbagi ide, dan belajar langsung mengubah kreativitas jadi produk yang punya nilai jual.

“Kita ajarkan dari dasar. Mulai dari bikin konten yang menarik, cara berbicara di depan kamera, sampai bagaimana menulis narasi yang kuat untuk menjual produk mereka. Setelah itu, kita bantu promosi dengan influencer lokal supaya mereka punya panggung,” jelas Iin.

Dalam lima bulan pertama tahun 2025 saja, ada lebih dari 230 pelaku ekonomi kreatif yang terdaftar, tersebar di 17 subsektor mulai dari kuliner, musik, desain, hingga konten digital. Sebagian besar di antaranya adalah wajah-wajah muda yang haus akan pengalaman dan peluang baru.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah Niva Adillah, kreator konten asal Banda Aceh yang konsisten mempromosikan budaya dan wisata Aceh lewat video pendek berbahasa Jepang. Ia mulai berkarya sejak 2018, membawa tagline khas “Sampo Shimasho” yang berarti ayo jalan-jalan. Dalam kontennya, Niva menampilkan keindahan Aceh dengan gaya yang ringan, modern, dan edukatif.

“Dari awal aku sadar, semua hal hari ini harus dikemas secara digital. Mau ide, bisnis, karya—semua butuh kemasan digital dan strategi branding. Tanpa itu, kita bisa punya bakat tapi nggak dikenal siapa-siapa,” ujarnya.

Niva bercerita, membangun personal branding bukan hal instan. Ia memulai dari vlog keseharian, hingga akhirnya berfokus ke konten wisata dan budaya. “Aku gabungkan semuanya dengan bahasa Jepang, karena itu bagian dari identitasku. Itu yang bikin beda,” katanya.

Bagi Niva, menjadi kreator bukan sekadar soal kamera dan editing, tapi juga memahami ritme tren dan menjaga orisinalitas. “Ide bisa datang dari mana aja—obrolan ringan, TikTok, bahkan pas lagi rebahan. Yang penting peka dan tetap jadi diri sendiri,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Perempuan yang juga pernah menyandang gelar Inoeng Duta Wisata Banda Aceh itu menegaskan, pelaku ekonomi kreatif harus menguasai keterampilan teknis sekaligus mental kuat. “Aku masih edit video sendiri sampai sekarang. Harus ngerti tools, algoritma, dan cara kerja platform. Karena kalau nggak ngerti, ya kita ketinggalan,” tuturnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa memperluas dukungan, tak hanya sebatas pelatihan teknis, tapi juga pembinaan strategi digital dan mentalitas kreator. “Anak muda hari ini bukan cuma butuh diajarin cara pakai aplikasi. Tapi juga gimana menghadapi tekanan sosial media, membangun citra, dan tetap kuat di tengah kritik. Itu yang sering luput,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas kreatif, dan platform digital jadi kunci. “Ekosistem ekonomi kreatif digital itu bukan lagi pilihan. Ini sudah keharusan. Pemerintah harus bantu bentuk ruang aman bagi anak muda untuk tumbuh, belajar, dan berani tampil,” pungkasnya.

Untuk sesama Gen Z, Niva punya pesan sederhana tapi tajam: “Punya niat, konsisten, dan mental bodo amat.” Ia tertawa kecil sebelum menjelaskan, “Bukan berarti cuek, tapi berani. Berani tampil meski belum sempurna, berani bangkit meski gagal. Dunia konten itu bukan soal siapa paling keren, tapi siapa yang nggak berhenti mencoba.”

Semangat seperti inilah yang coba dibangun Disbudpar Banda Aceh. Bahwa ekonomi kreatif digital bukan cuma tentang teknologi, tapi tentang manusia—anak-anak muda yang berani berpikir beda, mencipta hal baru, dan menjadikan ide mereka sebagai kekuatan ekonomi yang nyata.

Jika terus ditopang dengan pelatihan, kolaborasi, dan dukungan ekosistem yang tepat, generasi kreatif Banda Aceh bukan hanya akan harum di tingkat lokal, tapi juga bisa bersaing di panggung digital nasional, bahkan global.[***]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Ekraf

Habanusantara.net – Dari bahan sederhana yang biasa ditemukan di dapur orang Aceh, kini lahir aroma mewah yang siap mencuri perhatian pasar nasional. Janessence Aceh, varian terbaru dari Geutanyoe Perfume, parfum…

Songket motif Pha Changgeuk karya Mutiara Songket | foto: dok Mutiara Songket
Ekraf

Habanusantara.net – Tenun songket selama ini dikenal sebagai warisan budaya yang sarat makna, penuh simbol, dan bernilai tinggi. Namun bagi Ira Mutiara, Owner Mutiara Songket, tenun bukan hanya tradisi turun-temurun,…

Ekraf

Habanusantara.net – Di sebuah rumah sederhana di Krueng Kalee, Darussalam, Aceh Besar, disanalah seorang anak muda, Ira Mutiara, menenun benang demi benang dengan penuh kesabaran. Selama ini, di balik kelembutan…

close