Habanusantara.net – Di Banda Aceh, musik bukan sekadar denting gitar atau lantunan nada penghibur malam. Iin Muhaira, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh mengatkan musik adalah denyut kehidupan yang mengikat budaya, menggerakkan ekonomi, dan membuka ruang baru bagi anak muda untuk berkarya.
“Musik itu punya kekuatan sosial dan ekonomi. Ia bukan cuma hiburan, tapi bahasa universal yang bisa memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong tumbuhnya usaha,” ujar Iin.
Dalam pandangannya, subsektor musik kini menjadi salah satu pilar penting ekonomi kreatif di Banda Aceh. Kota ini, yang selama ini dikenal religius dan bersejarah, ternyata menyimpan potensi besar di bidang industri musik, terutama lewat kolaborasi pelaku usaha, komunitas kreatif, dan pelaku kuliner.
“Coba bayangkan, orang datang ke kafe tanpa musik. Suasananya terasa hambar. Musik itu yang menghidupkan ruang usaha, bikin orang betah, bahkan jadi alasan mereka datang kembali,” ungkap Iin sambil tersenyum.
Menurutnya, musik memiliki daya magis tersendiri dalam mendorong pergerakan ekonomi lokal. Tak sedikit kafe dan restoran di Banda Aceh yang kini menjadikan live music sebagai daya tarik utama. Para musisi lokal pun mendapat ruang tampil, berinteraksi langsung dengan penonton, dan membangun komunitas.
Lebih dari sekadar hiburan, musik juga menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai budaya Aceh. Lewat lagu, bahasa daerah dan kisah lokal bisa diperdengarkan ke khalayak yang lebih luas.
“Musik bisa jadi jembatan antara generasi. Anak muda bisa mengaransemen kembali lagu tradisi dengan gaya kekinian tanpa menghilangkan makna aslinya,” jelas Iin.
Ia juga menyinggung pentingnya tata kelola hak cipta dan sistem royalti bagi para pelaku musik. Pemerintah, melalui mekanisme LMK dan LMKN, telah mengatur sistem distribusi royalti berdasarkan data penggunaan lagu yang dihimpun dalam Sistem Informasi Lagu dan Musik (SILM).
“Ini penting agar musisi lokal juga bisa menikmati hasil karyanya secara adil. Musik itu profesi, bukan sekadar hobi,” tegasnya.
Banda Aceh, kata Iin, mulai menyiapkan berbagai ruang kreatif untuk anak muda yang ingin berkarya di dunia musik. Termasuk akses digital yang kini semakin luas, memungkinkan musisi lokal menjangkau pendengar hingga ke luar negeri.
“Digitalisasi membuka jalan baru. Anak-anak muda Banda Aceh sekarang bisa rilis lagu di platform global, berkolaborasi lintas kota, bahkan lintas negara. Ini bentuk baru dari diplomasi budaya,” katanya.
Bagi Iin, musik bukan hanya soal nada. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan inovasi. Di tangan generasi muda Banda Aceh, musik menjadi ruang yang tak hanya menumbuhkan kreativitas, tapi juga menegaskan identitas.
“Kalau kita bicara budaya, musik itu jantungnya. Ia menyatukan orang, menghidupkan usaha, dan jadi ruang ekspresi tanpa batas. Dari situ, Banda Aceh bisa tumbuh bukan hanya dikenal karena sejarahnya, tapi juga karena nadanya,” tutup Iin.[***]




















