Artikel

Mengetuk Rahmat Allah dengan Kesendirian

×

Mengetuk Rahmat Allah dengan Kesendirian

Sebarkan artikel ini
Mengetuk Rahmat Allah Dengan Kesendirian
Ilustrasi Mengetuk Rahmat Allah dengan Kesendirian

Maka sendiri di dunia di antara hikmahnya adalah mengantarkan kepada pemahaman kesendirian di kehidupan akhirat kelak. Tidak untuk menutup diri terhadap berbagai kebaikan yang ada, namun dapat membuka diri terhadap hal tersebut.

Menjadi sendiri tidak berarti tidak ada harapan dalam diri. Mengharap kebaikan sekedar dari Allah seperti rezeki, mencari nafkah sampai jodoh. Menjadi kemestian, mengharap hanya kepadaNya yang hanya Dia pemberi kebaikan serta dijauhkan dari setan yang menjerumuskan baik disadari atau tidaknya.
Seperti air kotor, bukan karena kotornya saja namun memang sudah saatnya dibuang karena memang tidak layak guna. Alhamdulillah ada air yang dengannya Allah memberi manfaat, hidup masih berjalan.
Mencari kebaikan serupa usaha bahkan berdo’a, dapat tertahan ternyata karena diri sendiri, bisa karena hawa nafsu dalam diri, kondisi yang belum siap menerima kebaikan sebagai bukti kelemahan juga dari luar yang bisa saja tidak baik-baik saja.
Kondisi kotor dapat menjauhkan kebaikan yang merupakan Rahmat Allah. Belum lagi diri yang tidak tahan uji, baik fisik maupun mental terlebih dosa-dosa dari masa lalu. Sebab bukan tidak ada tanda-tanda kuasa dariNya, namun kondisi tersebut menjadikan diri tuli, bisu dan tidak dapat memahami semuanya.
Solusinya adalah memperbaiki diri dengan istighfar, menahan diri dan banyak bertobat. Langkah ini tidak hanya untuk kebaikan diri dan orang lain namun lebih penting adalah dalam rangka mendekat diri atau “taqarrub” kepada Allah yang memegang kunci-kunci rahmat tersebut.
Maka sendiri di dunia di antara hikmahnya adalah mengantarkan kepada pemahaman kesendirian di kehidupan akhirat kelak. Tidak untuk menutup diri terhadap berbagai kebaikan yang ada, namun dapat membuka diri terhadap hal tersebut.
Mencari dan mengusahakan serta berdo’a perlu disadari sebatas dorongan keinginan diri. Keterbatasan, kelemahan serta ketidakpahaman menjadi seiring sejalan tatkala keinginan tersebut tidak berkesesuaian dengan keinginan Allah. Kalau sudah begitu, apakah menjadi pasrah?! Hal ini yang menjadi jalan mudahnya, jalan sulitnya adalah keinginan yang masih ada.
Seorang tokoh Islam, jika tidak mau dari barat yang tidak islami, bernama Muhammad Iqbal pernah mengupas secara ilmiah makna dan bagaimana keinginan Tuhan dengan konsep egonya.
Ego besar dan ego kecil katanya. Ego kecil senantiasa terdapat dalam diri manusia. Nah, secara praktis, konsep ini sulit dipahami dalam arti diterapkan serta membentuk pemahaman diri atasnya. Kendala perbedaan baik diri, lingkungan juga ilmu atasnya menjadi penghalang utama meski sesungguhnya tidak ada yang sulit bagi Allah baik untuk kehidupan di bumi sampai langit. Sebenarnya banyak sufi selain Sir Iqbal juga melihat hidup berujung sendiri.
Maka, mengharap belas kasihan dan pertolongan serta bimbinganNya adalah jalan terbaik. Bertaqwa dan menjadi yang terbaik di antaranya berakhlak mulia adalah harga mahal dan tidak dapat ditawar serta menjadi sabar dapat mengantarkan kepada derajat apa yang disebutnya dengan insan Kamil atau manusia mulia.
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* *Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close
error: