Habanusantara.net, Upaya menekan angka stunting, masalah serius pertumbuhan anak di Indonesia, terus menjadi fokus Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kota Banda Aceh.
Kepala DP3AP2KB Banda Aceh, Cut Azharida, SH, menyoroti pentingnya memerangi masalah ini karena stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berdampak pada fungsi kognitif anak dan bahkan prestasi sekolah.
Cut Azharida menjelaskan, stunting adalah manifestasi masalah kurang gizi kronis yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Anak yang mengalami stunting memiliki fisik lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak sehat seumurannya dan juga mengalami gangguan dalam fungsi kognitifnya.
Akibatnya, prestasi sekolah mereka pun terganggu, yang pada akhirnya dapat berujung pada kemiskinan.
Untuk mencegah stunting, Cut Azharida menekankan perlunya mempromosikan perilaku-perilaku kunci kepada masyarakat Banda Aceh.
Beberapa perilaku ini meliputi kunjungan ke fasilitas kesehatan selama kehamilan, konsumsi tablet tambah darah selama kehamilan, menjaga asupan gizi selama kehamilan, melakukan pemeriksaan pasca-melahirkan, praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD), memberikan ASI eksklusif pada anak usia 0-6 bulan, memberikan makanan bergizi seimbang, dan menjaga perilaku hidup bersih, seperti mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan sumber air bersih.
Cut Azharida juga menyoroti pentingnya peran ulama dan tokoh agama dalam mensosialisasikan pencegahan stunting kepada masyarakat. Menurutnya, ulama memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, dan nasihat serta edukasi dari mereka dapat membantu mengubah perilaku dan pandangan masyarakat terkait stunting.
Dalam upaya menurunkan angka stunting, DP3AP2KB Kota Banda Aceh akan meluncurkan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil).
Aplikasi ini akan digunakan untuk memantau kesehatan calon ibu sebelum hamil dan memberikan edukasi seputar persiapan pernikahan dan kehamilan. DP3AP2KB berharap bahwa kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dapat membantu mempercepat penurunan angka stunting di Banda Aceh.
Cut Azharida mengingatkan bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah kemanusiaan dan ekonomi. Masalah ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara.
Oleh karena itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah serius untuk menangani stunting, dan partisipasi aktif ulama, da’i, dan da’iyah diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting.
Dalam penutupannya, Cut Azharida menekankan bahwa persiapan pernikahan dan keluarga yang baik adalah perintah agama dan tanggung jawab bersama.
Dia mengajak semua pihak untuk bekerja sama demi menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh untuk masa depan bangsa, yang akan menghadapi tantangan di era globalisasi.[ADV]




















