Di balik popularitasnya yang meningkat, ada cerita tentang upaya pelestarian yang dilakukan oleh para seniman dan komunitas budaya. Mereka mengadakan pelatihan menenun, lomba desain, hingga pameran seni untuk memperkenalkan kembali Bungong Sulubayung kepada generasi muda. Tujuannya sederhana: menjaga agar motif ini tidak sekadar menjadi simbol pada kain, tetapi juga menjadi bagian yang hidup dalam identitas masyarakat Aceh Barat.
Pada akhirnya, Bungong Sulubayung adalah bukti bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang dilihat, tetapi juga sesuatu yang dirasakan. Ia menghadirkan keindahan visual sekaligus makna filosofis yang dalam. Dalam setiap pola, terdapat kisah tentang leluhur, kebijaksanaan, serta hubungan manusia dengan alam yang terus dijaga hingga hari ini. Melalui motif ini, Aceh Barat berbicara tentang dirinya—tentang keindahan, keteguhan, dan identitas yang tak lekang oleh waktu.(Adv)




















