Wisata

Sulubayung: Motif Warisan yang Menghidupkan Kembali Jati Diri Aceh Barat

×

Sulubayung: Motif Warisan yang Menghidupkan Kembali Jati Diri Aceh Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Dalam proses pembuatannya, masyarakat tradisional Aceh Barat sangat menekankan pada ketelitian. Pola Sulubayung yang rumit membutuhkan ketekunan dan kecermatan luar biasa. Para pengrajin biasanya memulai dari sketsa bunga dasar sebelum memperkaya dengan garis-simetris dan warna-warna cerah yang khas. Keterampilan ini diwariskan turun-temurun, menciptakan hubungan emosional antara generasi tua dan muda. Banyak perempuan di Aceh Barat yang sejak kecil sudah diperkenalkan kepada motif ini, baik melalui kain peninggalan keluarga maupun melalui aktivitas belajar menenun dengan para tetua kampung.

 

Menariknya, Bungong Sulubayung bukan sekadar motif dekoratif. Ia juga merupakan simbol filosofi kehidupan yang merangkum cara pandang masyarakat terhadap dunia sekitar. Bentuk bunga yang simetris dianggap sebagai visualisasi dari prinsip tawasut—sikap hidup moderat yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kelopak yang melebar diibaratkan sebagai kebaikan yang menyebar ke segala arah, sementara intinya melambangkan keteguhan hati dalam menjaga nilai-nilai adat dan agama.

Ilustrasi
Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Timphan selalu hadir ketika keluarga besar berkumpul. Saat hari raya tiba, para tetamu yang datang dari berbagai penjuru Aceh—bahkan dari luar daerah—akan selalu menanyakan apakah Timphan sudah tersedia. Makanan ini…

Wisata

Kehadiran para tetangga dan kerabat menjadi inti dari ritual ini. Meski terlihat sederhana, Seumapa memiliki makna sosial yang sangat dalam. Ia memperkuat jaringan persaudaraan, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus membentuk rasa…

Wisata

Dalam ranah adat, bahasa Aceh menjadi medium utama penyampaian nilai dan norma. Setiap prosesi adat, mulai dari peusijuek, kenduri, hingga upacara pernikahan, selalu dihiasi doa, petuah, dan syair yang disampaikan…

close