Bungong Sulubayung, yang secara harfiah berarti “Bunga Sulubayung”, hadir sebagai simbol keanggunan alam yang lekat dalam kehidupan masyarakat Aceh Barat. Bentuknya yang menyerupai bunga dengan pola simetris mencerminkan ketertiban dan keseimbangan—dua prinsip penting yang dijunjung tinggi masyarakat Aceh sejak lama. Setiap goresan motif seolah mengajak siapa pun untuk membaca pesan tentang harmoni dalam kehidupan: bagaimana manusia harus menjaga keselarasan dengan alam, serta bagaimana kebersamaan harus terus dijaga di tengah dinamika zaman.
Motif ini paling sering ditemukan pada berbagai produk kerajinan, terutama kain tenun, tapis, dan sejumlah pernak-pernik adat yang dipakai pada upacara resmi atau perayaan penting. Dalam beberapa kesempatan adat, Bungong Sulubayung menjadi elemen utama pada pakaian perempuan, terutama pada bagian kain dan selendang. Hal ini bukan semata karena keindahannya, tetapi juga karena simbol-simbol yang terkandung di dalamnya dianggap mampu memberikan energi positif, menolak hal buruk, sekaligus menghadirkan keanggunan bagi pemakainya.




















