News

Meugang—Hari Ketika Dapur-Dapur Aceh Menjadi Pusat Kebahagiaan

×

Meugang—Hari Ketika Dapur-Dapur Aceh Menjadi Pusat Kebahagiaan

Sebarkan artikel ini

Di sejumlah kampung, tradisi memasak dilakukan secara gotong-royong. Dapur besar dibuka, tungku menyala sejak subuh, dan suara tawa menyatu dengan dentingan pisau yang memotong bumbu. Para lelaki mengaduk kuah gulai dalam kuali besar—beulangong—sementara perempuan menyiapkan bumbu dan rempah. Remaja dan anak-anak pun turut membantu, mulai dari mengangkut air, mengupas bawang, hingga menjaga bara api. Suasana seperti ini bukan hanya menciptakan hidangan lezat, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian antarwarga. Itulah esensi pendidikan sosial dalam tradisi Meugang.

Ilustrasi Meugang di Aceh.

Setelah masakan matang, momen yang paling dinanti adalah makan bersama. Keluarga besar berkumpul, saling bertukar cerita, dan menikmati hidangan dalam suasana hangat. Banyak pula yang membagikan makanan ke tetangga, kerabat, fakir miskin, hingga santri di dayah-dayah. Masyarakat Aceh percaya bahwa keberkahan Meugang tidak akan lengkap tanpa berbagi. Ada ungkapan yang sering disebut: “Meugang bukan hanya hari makan daging, tapi hari berbagi yang penuh berkah.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa Meugang bukan hanya ritual memasak, tetapi perwujudan nilai spiritual dan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
News

Harapannya, dana tersebut, dapat digunakan, untuk memulihkan kondisi rumah lima orang wartaean tersebut yang luluh lantak diterjang banjir bandang. “Awalnya kita ingin membesarkan jumlah penerima. Tapi, akhirnya kita memilih membesarkan…

close