Menurutnya, bangunan ini bukan sekadar representasi budaya, tetapi simbol marwah dan perlawanan masyarakat Aceh yang tidak pernah tunduk kepada penjajah. “Dulu Belanda bangga memajang Rumah Aceh ini di pulau Jawa sebagai pameran kolonial. Tapi lihat sekarang, Rumoh Aceh kembali ke tempatnya dan menjadi penjaga memori sejarah masyarakat Aceh,” tambahnya.
Widya mengaku paling terkesan dengan koleksi historika, terutama dokumen dan koin kuno yang merefleksikan dinamika politik dan sistem pemerintahan Aceh masa lampau. Baginya, koleksi tersebut bukan hanya benda, tetapi bukti nyata bahwa Aceh pernah menjadi peradaban besar di kawasan Asia Tenggara.
“Museum seperti ini sangat penting. Kita belajar bahwa sejarah bukan sekadar teks buku. Kita bisa melihat, merasakan, bahkan membayangkan suasana masa lampau. Generasi kita perlu datang ke sini agar tidak tercerabut dari akar budaya,” tutupnya.




















