Keberhasilan itu membuat pemerintah kolonial Belanda memutuskan membawa pulang bangunan tersebut ke Aceh. Setelah direkonstruksi, Rumoh Aceh resmi dibuka sebagai museum pada 31 Juli 1915 oleh Jenderal H.N.A. Swart, Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh saat itu. Sejak hari itu, museum ini menjadi rumah bagi ratusan hingga kini ribuan koleksi bersejarah yang terus berkembang dari generasi ke generasi.
Hingga kini, Rumoh Aceh masih berdiri kokoh di dalam area museum. Bangunan kayu bertiang tinggi dengan ukiran dan struktur tradisional itu menjadi ikon tak tergantikan, seolah menjadi penjaga utama seluruh koleksi di dalamnya.
Memasuki kompleks museum seakan menembus garis waktu sejarah. Ribuan koleksi di dalamnya dibagi dalam sepuluh kategori, termasuk Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika, Filologika, Keramonologika, Seni Rupa, hingga Teknologika.




















