Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah keramik-keramik tua dari berbagai negara seperti Cina, Persia, dan Eropa. Benda-benda ini menunjukkan betapa Aceh pernah menjadi pusat perdagangan internasional yang penting di masa lalu.
Bagi sebagian pengunjung, mengunjungi museum ini bukan hanya tentang berjalan melihat benda-benda lama, tetapi juga perjalanan emosional mengenal jati diri. Salah satunya dialami oleh Widya, seorang mahasiswi yang datang bersama teman-temannya.
Berdiri di samping Rumoh Aceh, Widya terlihat terpukau. “Rasanya lain sekali bisa melihat langsung bangunan setua ini. Kokohnya tiang-tiang kayu, detail ukirannya, semua memancarkan identitas Aceh,” ujarnya.




















