Sebelum meninggalkan lokasi, Novi sempat menatap benteng itu sekali lagi. Ada nada reflektif dalam ucapannya.
“Indra Patra bukan tentang reruntuhan,” katanya lirih. “Benteng ini adalah simbol ketahanan. Setiap batu di sini bercerita bahwa Aceh pernah menjadi negara besar yang terkoneksi dengan dunia—bukan hanya lewat perdagangan, tetapi melalui ilmu, diplomasi, dan teknologi.”
Ia kemudian melangkah pergi, meninggalkan benteng yang tetap berdiri gagah menghadap laut, seolah menjaga warisan Aceh yang tidak pernah runtuh: martabat, peradaban, dan sejarah.




















