Sejarawan mencatat, pada masa Sultan Alauddin Al-Kahhar, Aceh menjalin hubungan diplomatik dan militer dengan Kekaisaran Turki Utsmani. Delapan insinyur militer dari Istanbul dikirim langsung untuk membantu Aceh memperkuat pertahanan dan merancang meriam perunggu untuk menghadang armada Portugis.
“Bayangkan, ratusan tahun lalu insinyur Turki datang ke sini, membangun kubah ini, merancang sistem pertahanan, dan membuat meriam. Itu menunjukkan betapa luasnya jangkauan Aceh pada masa itu,” ucap Novi dengan nada kagum.
Tidak hanya arsitektur dan desain militer, pengunjung juga bisa menemukan jejak kecanggihan teknologi air yang dipadukan dalam struktur benteng. Di beberapa sisi kompleks, terdapat kanal yang diyakini memanfaatkan pasang surut laut sehingga perahu kecil dapat masuk hingga area inti pertahanan.
“Saya membayangkan Sultan menginspeksi bentengnya dengan naik perahu. Sistem kanal ini sangat modern pada masanya. Itu bukti kecerdasan para insinyur peradaban Aceh,” ungkap Novi.




















