“Saya sudah sering melihat benteng peninggalan Belanda, tapi Benteng Indra Patra punya aura berbeda,” ujarnya pelan. Matanya tak lepas dari struktur tembok yang tersusun dari bongkahan batu besar.
Menurutnya, benteng ini bukan hanya peninggalan pertahanan, melainkan cerminan cara berpikir strategis sebuah kerajaan besar. “Benteng ini tidak dibuat untuk memperindah pandangan. Ia dibangun untuk bertahan. Dan itu membuatnya justru mengagumkan,” tambahnya.
Pandangan Novi kemudian tertuju pada sebuah bangunan kecil di dalam kompleks benteng—struktur berbentuk kubah yang menaungi sumur kuno. Di sinilah ia menemukan salah satu detail paling menarik dari situs ini.
“Sumur berkubah ini membuat saya terperangah. Kubahnya datar dan lebar, tidak seperti arsitektur Aceh pada umumnya,” tuturnya sambil mendekat. “Model seperti ini lebih mirip kubah gaya Byzantium, seperti yang ada di Hagia Sophia.”




















