Habanusantara.net – Di ujung perjalanan menyusuri pesisir utara Aceh Besar, sekitar 35 kilometer dari pusat Banda Aceh, berdiri kokoh sebuah bangunan batu kuno yang menyimpan kisah panjang sebuah peradaban besar. Bangunan itu adalah Benteng Indra Patra, situs pertahanan yang hingga kini menjadi saksi kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16—masa ketika Aceh dikenal sebagai kekuatan maritim paling disegani di kawasan Selat Malaka.
Ketika angin laut menyapu rerumputan liar dan deburan ombak memecah sunyi, dinding batu tebal benteng ini seolah masih menyimpan gema langkah pasukan berkuda dan dentuman meriam yang pernah menggetarkan kawasan ini. Indra Patra bukan sekadar bangunan tua, tetapi blueprint strategi geopolitik Aceh masa lalu serta bukti kecanggihan teknologi militer kerajaan.
Benteng ini merupakan salah satu bagian dari sistem pertahanan terpadu di kawasan Ladong dan Krueng Raya—bersanding dengan Benteng Inong Bale, Benteng Sultan Iskandar Muda, hingga Benteng Kuta Lubok. Seluruhnya dibangun untuk menjaga jalur maritim strategis Aceh dari ancaman Portugis dan kekuatan asing lain yang berebut kendali Selat Malaka.
Pada siang yang lengang, seorang wisatawan bernama Novi tampak berdiri terpaku di depan dinding benteng yang masih berdiri kuat meski dimakan usia. Jemarinya menyentuh permukaan batu yang ditumbuhi lumut, seolah mencoba merasakan denyut masa lalu.




















