Catatan sejarah seperti Hikayat Meukuta Alam dan Hikayat Malem Dagang pernah menggambarkan bagaimana benteng ini menjadi benteng utama dalam menggagalkan upaya pendaratan Portugis. Struktur dinding segi empat yang tebal dirancang tahan gempa dan gelombang pasang—sebuah langkah visioner mengingat Aceh adalah wilayah yang rentan bencana.
Waktu mungkin telah mengikis beberapa bagian benteng. Namun setelah dilakukan restorasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh, wajah Benteng Indra Patra kembali tampil lebih utuh sebagai ruang edukasi sejarah.
Meski kini suasana sekitarnya lebih tenang—dengan suara ombak, desir angin laut, dan hewan peliharaan warga yang sesekali melintas—nuansa militernya masih terasa kuat. Setiap sudut seolah masih menyimpan detak masa lalu yang belum benar-benar padam.




















