Habanusantara.net – Ekonomi kreatif di Banda Aceh kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Jika dulu usaha mikro hanya diasosiasikan dengan “jualan keripik”, kini pelaku UMKM lokal telah menjelma menjadi para kreator yang mendobrak batas-batas industri dengan produk yang inovatif, penuh identitas lokal, dan bahkan siap bersaing di pasar dunia.
Salah satu tokoh muda yang aktif mendorong geliat ekonomi kreatif di Aceh adalah Khairul Fajri Yahya, founder dari merek lokal Ija Kroeng. Sebagai anak muda yang tumbuh dari lingkungan kreatif, Fajri melihat sendiri bagaimana perubahan cara pandang terhadap UMKM telah membuka banyak peluang baru, terutama bagi generasi muda.
“Dulu UMKM itu kesannya cuma orang yang tidak tahu harus kerja apa. Sekarang beda, UMKM itu jadi pilihan sadar untuk berkarya dan membawa perubahan. Bahkan bisa go internasional,” kata Khairul
Khairul menekankan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya peluang usaha, tapi juga wadah ekspresi. Menariknya, dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang diakui pemerintah, Aceh mendapat keistimewaan sebagai satu dari 15 provinsi prioritas untuk pengembangan ekonomi kreatif lima tahun ke depan.
“Ini momen penting. Jangan cuma jadi penonton, anak muda Aceh harus jadi pemain, tergantung mau main di level mana,” ujarnya.
Menurut Khairul, keunggulan Aceh justru ada pada kekhasan lokal yang tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan negara lain. “Kalau teknologi mungkin kita kalah dari Cina atau Jepang. Tapi kalau soal ekonomi kreatif, apalagi yang berbasis budaya dan kearifan lokal, kita punya daya tawar yang unik,” terangnya.
Ia meyakini bahwa anak muda Aceh mampu menjadi pelaku UMKM yang mendunia. Khairul tidak hanya berbicara visi, tapi juga punya strategi konkret. Ia mengajak anak muda Aceh untuk berani berpikir besar.
Produk-produk lokal, menurutnya, tidak boleh hanya ditargetkan untuk pasar Banda Aceh atau Indonesia saja. Dunia kini sudah tanpa batas.
Apalagi, menurutnya, sekarang ada peluang-peluang luar biasa dari skema perdagangan global seperti penghapusan bea masuk ke Eropa yang bisa dimanfaatkan pelaku ekraf di Indonesia.
“Kalau ada peluang masuk ke Eropa tanpa biaya masuk, kenapa kita nggak manfaatkan? Ini waktunya kita ekspor ide, ekspor budaya, dan ekspor produk kreatif Aceh ke dunia,” ajaknya.
Tak puas hanya dengan desain, Khairul juga serius mengembangkan material tekstil. Ia menyebut bahwa riset ke depan akan fokus pada bahan-bahan lokal yang bisa dijadikan tekstil khas. Mulai dari serat nanas, serat pisang, hingga bahan yang lebih ekstrim seperti serat ganja.
“Saya pernah mencoba dari 2017 untuk meneliti serat ganja jadi wastra. Tapi karena masih bertentangan dengan hukum, belum bisa diwujudkan. Tapi secara potensi, kita punya bahan yang luar biasa dan belum dimiliki orang lain,” jelasnya.
Ia menyadari, bahan dan teknik pembuatan yang khas ini adalah kekuatan utama produk Aceh yang tak bisa disaingi hanya dengan desain semata. “Kalau soal bentuk dan model, bisa dicontek dari Pinterest tiap detik. Tapi material, cerita di balik kain itu, tidak bisa ditiru,” terangnya.

Salah satu mimpinya adalah membawa Ija Kroeng yang merupakan brand sarung khas Aceh miliknya untuk tampil di lima panggung fashion dunia: New York, London, Paris, Milan, dan Tokyo Fashion Week.
“Target lima tahun ke depan, Ija Kroeng bisa tampil di lima fashion week itu. Tujuannya bukan cuma pameran, tapi membuka jaringan bisnis global. Kalau sukses, akan berdampak langsung ke pengrajin-pengrajin lokal di Aceh,” jelasnya.
Khairul juga menyebut, produk seperti wastra Aceh memiliki potensi nilai ekonomi tinggi. “Harga wastra itu bisa tembus 1,5 juta per potong. Itu baru dari satu titik. Bayangkan jika permintaan global meningkat, berapa banyak pengrajin yang terbantu?”
Khairul menyampaikan harapan besarnya kepada generasi muda Aceh. Menurutnya, ekraf bukan tren sesaat, tapi masa depan ekonomi.
“Ekonomi kreatif ini tentang nilai tambah. Dan kita, anak muda Aceh, punya semua unsur untuk jadi pemain global. Kita punya budaya, kita punya cerita, kita punya keunikan. Sekarang tinggal keberanian dan konsistensi.”[***]




















