ADVERTORIAL

Stroke Salah Satu Penyakit Tidak Menular, Tapi Banyak Diderita Masyarakat

×

Stroke Salah Satu Penyakit Tidak Menular, Tapi Banyak Diderita Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net, Stroke, yang dulunya diidentikkan dengan penyakit yang umumnya menyerang orang usia lanjut, kini menjadi ancaman serius di segala rentang usia.

Perubahan gaya hidup modern, termasuk konsumsi makanan cepat saji dan kurangnya aktivitas fisik, telah memicu meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya stroke.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi (PERDOSNI) Cabang Aceh, dr. Farida, Sp. N(K), dalam rangka peringatan Hari Stroke Sedunia di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA).

Menurut Farida, lebih dari 70 persen penderita stroke saat ini berusia di atas 50 tahun, namun perlu diingat bahwa usia bukan lagi patokan mutlak untuk terkena stroke.

Kasus stroke pada usia 30 tahun bukanlah hal yang langka. Stroke, sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah otak dan ditandai dengan gejala tiba-tiba, dapat menyebabkan dampak serius, mulai dari kecacatan fisik hingga kematian.

“Kita harus waspada terhaap bahaya stroke karena penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu 24 jam,” peringatannya.

Farida juga mencatat bahwa RSUDZA setiap harinya menerima tiga hingga lima pasien penderita stroke. Meskipun ia tidak dapat menentukan wilayah dengan penderita stroke terbanyak, ia menegaskan bahwa jumlah pasien yang ditangani setiap hari cukup signifikan.

“Pasien hipertensi dapat mengontrol tekanan darah melalui intervensi gaya hidup, seperti meningkatkan aktivitas fisik, mengelola stres, dan berhenti merokok.

Pola hidup masyarakat yang memengaruhi risiko hipertensi menjadi tantangan yang sulit diatasi,” tambah Farida.

Dalam upaya pencegahal, Farida mendorong masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat, termasuk pola makan yang baik, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres yang efektif.

Ia juga menekankan pentingnya kontrol faktor risiko setidaknya tiga bulan sekali melalui konsultasi dengan dokter. Meskipun Aceh masih masuk dalam 10 besar pengidap stroke tertinggi di Indonesia, Farida optimis bahwa perubahan pola hidup melalui sosialisasi dapat mengurangi risiko stroke di masyarakat.

Mengenal Stroke dan Cara Pencegahannya

Seiring bertambahnya usia, seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk hipertensi, artritis, PPOK, diabetes, dan stroke. Stroke, sebagai kondisi yang dapat mengancam hidup dan menyebabkan kerusakan permanen, tidak memandang usia.

Faktor risiko stroke dapat dibagi menjadi yang dapat diubah dan yang tidak. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, keturunan, dan riwayat keluarga yang terserang stroke atau penyakit jantung.

Penyebab stroke bervariasi, namun umumnya dibagi menjadi dua jenis: iskemik (darah membeku menyumbat pembuluh darah) dan hemoragik (pembuluh darah di otak bocor atau pecah). Gejala stroke, seperti sakit kepala mendalam, kesulitan melihat, pusing, kebingungan, dan mati rasa atau kelemahan pada wajah, lengan, atau kaki, terjadi tiba-tiba.

Pengobatan stroke melibatkan obat-obatan, termasuk pencegahan tekanan darah tinggi dan penurun kolesterol. Rehabilitasi, seperti terapi bicara, fisik, dan kerja, sering diperlukan untuk pemulihan.

Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan menjalani gaya hidup sehat, termasuk makan makanan sehat, olahraga teratur, dan tidak merokok. Menjaga tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah dalam batas normal juga penting.

Dengan sosialisasi dan perubahan pola hidup, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko stroke dan menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan otak bagi semua kalangan usia.[Adv]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
close