ADVERTORIAL

Mengenal Sifilis dan Upaya Pencegahan di Aceh

×

Mengenal Sifilis dan Upaya Pencegahan di Aceh

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Sifilis adalah salah satu Penyakit Menular Seksual (PMS) yang berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum, umumnya ditularkan melalui kontak seksual dengan individu yang terinfeksi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Keseharan Provinsi Aceh, dr. Iman Murahman mengatakan, sifilis menjadi perhatian serius bagi Dinas Kesehatan Aceh.

Iman menyampaikan bahwa sifilis dapat memunculkan gejala yang beragam, termasuk bercak putih di mulut. “Bercak putih di mulut bisa menjadi pertanda sifilis,” kata Iman, belum lama ini.

Selain itu, kerontokan rambut yang tidak merata di kepala, janggut, dan alis merupakan gejala umum sifilis.

Di samping itu, gejala sifilis juga bisa ditandai dengan muncul dalam bentuk luka kecil atau chancre di tempat bakteri memasuki tubuh, yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu.

Iman juga menjelaskan sifilis bisa ditandai dengan munculnya ruam di tubuh. Ruam biasanya dimulai dari batang tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh. Meskipun tidak gatal, ruam ini memiliki ciri khas bintik-bintik kasar, merah, atau coklat kemerahan.

“Kebiasaannya penderita sifilis juga dapat mengalami gejala mirip flu, seperti demam, kelelahan, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, sakit kepala, dan nyeri otot,” kata Iman.

Ia mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perempuan menjadi penyumbang terbanyak kasus sifilis di Aceh. Laki-laki berusia 25-49 tahun dan perempuan 25-49 tahun mendominasi kasus itu.

Iman menjelaskan, jumlah yang terdeteksi itu hanya bagi masyarakat yang mempunyai kesadaran untuk memeriksa diri ke puskesmas setempat. Artinya, bisa jadi masih banyak masyarakat lainnya yang terjangkit IMS sifilis namun tidak berani melapor.

“Memang IMS kalau di Aceh masih hal yang tabu, tapi penularannya memang pasti dari hubungan seks antara laki dan perempuan,” tutur Iman.

Ia menambahkan, saat ini pemeriksaan sifilis juga sudah diprioritaskan pada ibu hamil. Hal ini dilakukan untuk memastikan si calon bayi tidak terkena penyakit menular ini.

“Jadi sebenarnya tujuan pemeriksaan pada ibu hamil untuk mengetahui dan juga memastikan si bayi tidak terkena sitilis, kalau bayinya terkena sitilis maka dia lahirnya akan cacat, bisa saja dia meninggal,” jelas Iman.

Agar pemeriksaan itu lancar, pihaknya sudah menyebarkan alat pendeteksi cepat sitilis pada ibu hamil untuk seluruh puskesmas di Aceh.

Kata Iman, penyakit sitilis itu bisa jadi penularannya dari suami. Karena itu, ia menilai pentingnya pemeriksaan pada suami untuk memutuskan rantai penyakit kelamin tersebut.

Namun kenyataannya di Aceh, jika istrinya terjangkit virus IMS sifilis, maka sang suami seperti lepas tangan. Ia tidak mau diperiksa apakah ada terdeteksi kasus tersebut.

“Kita mulai dari ibu hamil dulu, kemudian dapat suaminya, maka kita akan tanyakan dari mana sebenarnya dapat penyakit kelamin ini, sehingga rantai itu terus kita kejar dan mudah-mudahan semua IMS akan bisa teratasi,” kata Iman.

Selama ini, jelas Iman, para suami di Aceh sangat jarang memeriksa diri apakah ada terjangkit virus sitilis atau tidak. Bisa jadi, faktor malu menjadi alasan mereka mengurungkan niatnya untuk ke dokter.

“Kecuali memang sudah berat. dari laki-laki sering raja singa, pada laki-laki sangat jarang diperiksa, sehingga tidak kita temukan kasus di Aceh, kecuali sudah bergejala berat dan akan ditangani langsung oleh dokter,” kata Iman.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh dr Iman Murahman[Foto/Is]
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh dr Iman Murahman[Foto/Is]

“Penyebabnya faktor malu, bagaimanpun ini terkait dengan kelamin, kita orang Aceh kelamin masih menjadi hal yang tabu,” tambah Iman.

Menurut Iman, faktor malu itu menjadikan kasus penyakit IMS lainnya seperti raja singa, kencing nanah, hepatitis dan klamidia sulit ditemukan di Aceh.

“Laporan dari puskesmas semua masuk, namun untuk raja singa, kencing nanah, hepatitis, klamidia dan lain-lain hasilnya nihil,” sebut Iman.

Upaya Pencegahan Sifilis

Dinas Kesehatan Provinsi Aceh telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyakit IMS sifilis pada masyarakat di provinsi tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu sosialisasi pada anak-anak di sekolah, terutama Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Puskesmas-puskesmas masuk ke sekolah-sekolah dan juga melakukan sosialisasi pada ibu hamil, di mana ibu hamil di Aceh ini diharapkan untuk memeriksa diri pada saat kehamilan,” kata Iman.

Iman menjelaskan, selain memeriksa sifilis, petugas di puskesmas juga memeriksa HIV. Jika terdapat positif maka akan langsung ditangani.

Menurutnya, hal terpenting dilakukan dalam upaya pencegahan adalah dengan memberi edukasi kepada generasi-generasi remaja betapa bahayanya penyakit tersebut. Karena itu, pihaknya sangat gencar masuk ke sekolah-sekolah menengah atas.

“Karena ini menyangkut perilaku anak-anak remaja, karena remaja sebagai agennya, kalau memang ke depan merekalah pelakunya dan berkeluarga,” kata dia.

Selain pemerintah, kata Iman, penyuluhan bahaya IMS juga kerap dilakukan oleh organisasi yang bergerak di bidang kesehatan, terutama organisasi profesi dokter.

“Dengan seringnya sosialisasi, kita berharap masyarakat, terutama generasi remaja harus tau apa efek hubungan seks di luar nikah,” pungkasnya. [Adv]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
close