ADVERTORIAL

Dinkes Aceh Imbau Masyarakat Gunakan Kelambu dan Anti Nyamuk Untuk Malaria

×

Dinkes Aceh Imbau Masyarakat Gunakan Kelambu dan Anti Nyamuk Untuk Malaria

Sebarkan artikel ini
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh dr Iman Murahman[Foto/Is]
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh dr Iman Murahman[Foto/Is]

Habanusantara.net– Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh melaporkan peningkatan kasus malaria di tahun 2023, dengan Aceh Besar mencatatkan jumlah tertinggi.

Hingga Oktober 2023, terdapat 141 kasus malaria, mengungguli rekor tahun sebelumnya yang paling tinggi di Kabupaten Aceh Jaya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, Iman Murahman, mengungkapkan bahwa meskipun terjadi peningkatan, 22 dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh telah menerima sertifikat eliminasi malaria dari Menteri Kesehatan, menunjukkan upaya eliminasi yang telah dilakukan.

Iman menjelaskan bahwa kasus malaria di Aceh Besar paling banyak terjadi di kecamatan Lembah Seulawah dan Kuta Cot Glie hingga 46 kasus, dengan mayoritas dialami oleh para perambah hutan.

Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang aktif di kawasan hutan, terpapar oleh nyamuk malaria yang beroperasi di wilayah tersebut.

Dinkes Aceh menekankan perlunya langkah preventif, terutama bagi mereka yang tinggal atau bekerja di sekitar hutan.

Malaria, penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles, menimbulkan gejala seperti demam, menggigil di malam hari, dan pembesaran hati dan limpa.

Iman menyebutkan bahwa varian Plasmodium yang paling banyak di Aceh adalah Plasmodium knowlesi. Dalam menangani kasus malaria, Dinkes Aceh telah melakukan berbagai kegiatan penunjang, termasuk eliminasi pasien setempat dan penyembuhan intensif hingga pasien sembuh.

Selain itu, Dinkes Aceh aktif melakukan survei dan pemeriksaan kepada keluarga, tetangga, dan teman kerja pasien yang terkena malaria.

Memberikan edukasi kepada masyarakat juga menjadi fokus dalam upaya pencegahan. Lampu distribusi khusus, terutama di daerah pegunungan seperti Aceh Jaya, diberikan untuk mencegah gigitan nyamuk saat malam hari.

Iman menyoroti perubahan dalam penularan malaria, di mana sekarang penyakit ini dapat ditularkan melalui perantara monyet.

Monyet yang terkena malaria dapat menjadi sumber penularan ketika digigit nyamuk dan menyebabkan penularan kepada manusia. Kasus malaria di Aceh Besar terutama terjadi pada warga yang tinggal dekat dengan hutan dan monyet.

Dalam upaya pencegahan, Dinkes Aceh mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk menggunakan kelambu saat tidur dan ketika berada di luar rumah pada waktu yang rentan terhadap gigitan nyamuk malaria, yaitu mulai dari magrib.

Iman menekankan pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya bagi pemuda yang sering keluar malam, untuk menggunakan lotion anti nyamuk guna menghindari gigitan yang berpotensi menyebabkan malaria.

Dinkes Aceh terus memberikan perhatian khusus terhadap daerah yang memiliki potensi peningkatan kasus malaria.

Selain melalui upaya pengobatan dan eliminasi pasien, edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci untuk memutus rantai penularan penyakit ini.

Dengan kerjasama dan partisipasi aktif masyarakat, Dinkes Aceh yakin dapat mengurangi angka kasus malaria di Aceh dan menjaga kesehatan seluruh warganya.[Adv]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close