Habanusantara.net – Ekonomi kreatif di Banda Aceh kini bukan cuma sekadar wacana keren di seminar atau spanduk pemerintah. Ia sedang tumbuh—pelan tapi pasti—lewat kolaborasi lintas sektor. Dari anak-anak Gen Z yang jago bikin konten sampai ibu rumah tangga yang mulai jual produk handmade, semuanya jadi bagian dari ekosistem besar yang makin hidup.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Said Fauzan, menyebut kolaborasi adalah kunci utama menghidupkan sektor ekraf di ibu kota provinsi ini. “Banda Aceh punya semangat besar buat jadi Kota Kolaborasi. Jadi, semua pihak harus jalan bareng. Pemerintah, swasta, komunitas, media, semua punya peran,” ujarnya.
Sejak 2023, geliat ekonomi kreatif di Banda Aceh mulai terasa. Data dari Dinas Pariwisata menunjukkan, lebih dari 4.000 pelaku ekraf kini aktif di berbagai subsektor—dari fesyen, kuliner, desain, hingga digital. Tahun 2023 tercatat ada 1.109 usaha yang terdaftar resmi lewat OSS. Setahun berikutnya, angka itu melonjak jadi 2.808. Hingga Juli 2025, sudah 272 pelaku baru bergabung.
“Tapi ini baru yang teregistrasi resmi. Masih banyak pelaku rumahan dan kreator independen yang belum masuk data. Sekarang kita lagi dorong supaya mereka legal dan bisa difasilitasi,” kata Fauzan.
Menariknya, pertumbuhan ekraf di Banda Aceh bukan cuma soal angka, tapi juga soal naik kelas. Dinas Pariwisata terus mendorong para pelaku untuk punya legalitas dan sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Hingga pertengahan 2025, sudah ada 79 pelaku ekraf yang berhasil mendaftarkan produknya secara resmi.
“Ini bukan cuma soal izin, tapi soal pengakuan. Artinya mereka udah naik level,” tambah Iin Muhaira, Kabid Ekonomi Kreatif Dispar Banda Aceh.
Keterbatasan anggaran daerah ternyata tidak membuat langkah mereka terhenti. Dispar justru kreatif—menjalin kerja sama dengan komunitas, perbankan, hingga pelaku industri kreatif nasional. “Kita udah sering bikin pelatihan tanpa pakai dana APBK. Semuanya hasil kolaborasi,” kata Iin.
Salah satu yang menarik perhatian adalah program “Ruang Muda Kreatif”, hasil kerja sama antara Dispar, Duta Wisata Kota, dan komunitas pelaku usaha lokal. Program ini menyasar Gen Z Banda Aceh—anak muda yang doyan nongkrong tapi punya potensi besar di dunia digital.
“Mereka kita ajarin bikin kerajinan rotan, public speaking, cara promosi, sampai digital branding. Bahkan kita hubungkan langsung dengan influencer lokal buat bantu promosi,” terang Iin.
Setelah pelatihan, para peserta nggak cuma disuruh pulang bawa sertifikat. Mereka didorong mandiri—membangun produk, menciptakan konten, dan membentuk jaringan pasar sendiri. “Sekarang banyak yang udah jalan sendiri. Ada yang jualan online, ada yang bikin brand kecil, dan hasilnya keren,” tambahnya.
Bukan cuma anak muda, ekosistem ekraf di Banda Aceh juga diramaikan oleh UMKM dan ibu rumah tangga yang mulai beradaptasi dengan dunia digital. Mereka difasilitasi lewat pelatihan wirausaha, desain kemasan, hingga penggunaan media sosial untuk jualan.
Salah satu langkah strategis lain adalah kolaborasi dengan komunitas Ekraf Go Digital, yang fokus mengajarkan pelaku usaha memahami pasar daring. Dari sana, banyak usaha kecil belajar bikin kemasan yang menarik dan tahu cara menjangkau pembeli lewat platform digital.
Menurut Iin, arah pengembangan ekonomi kreatif di Banda Aceh kini bukan lagi acara seremonial seperti festival atau pameran. Tapi membangun ekosistem berkelanjutan—di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator, komunitas jadi sumber ide, dan swasta sebagai penggerak investasi.
“Ekraf ini bukan tren sesaat, tapi masa depan ekonomi kita. Kalau hari ini kolaborasi kuat, lima sampai sepuluh tahun lagi Banda Aceh bakal panen hasilnya,” ujar Iin.
Tahun 2025 ini, Dinas Pariwisata juga mulai fokus ke pelatihan sektor baru seperti desain komunikasi visual dan voice-over, berkolaborasi dengan Voice Over Institute Indonesia. Langkah ini jadi bagian dari pengembangan 17 subsektor ekonomi kreatif di Banda Aceh, mulai dari arsitektur, musik, fesyen, hingga aplikasi digital.
“Pelan-pelan kita kembangkan semua sektor itu. Bentuknya kolaborasi, tujuannya tetap sama: ngembangin SDM kreatif Banda Aceh,” tutupnya.[***]




















