Senja di waduk menghadirkan suasana ramai namun tetap penuh ketenangan. Anak-anak bermain bebas sambil tertawa riang, pasangan muda duduk di bangku taman menikmati suasana, dan para orang tua berbincang santai sambil memandang air. Semua terlihat serempak menikmati waktu tanpa terburu-buru.
Seiring berjalannya waktu, waduk tidak hanya menjadi ruang publik, melainkan juga menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Lhokseumawe. Di sini, rekreasi, olahraga, dan kehidupan pesisir terasa berdampingan. Ritme tenang air dan aktivitas masyarakat saling mengisi tanpa saling mengganggu. Itulah alasan mengapa banyak orang menyebut waduk ini sebagai “ruang pernapasan kota.”
Waduk Kota Lhokseumawe membuktikan bahwa keindahan tidak selalu harus hadir dalam bentuk bangunan megah atau fasilitas buatan manusia. Kadang, harmoni dan ketenangan dapat ditemukan dalam lanskap sederhana yang dikelola dengan baik, dibiarkan bernapas bersama alam, dan dinikmati bersama-sama.




















