Bukan hanya Haris, jalur jogging yang mengelilingi waduk memang menjadi daya tarik tersendiri. Di pagi dan sore hari, jalur ini ramai oleh pejalan santai, pelari, hingga komunitas pesepeda. Beberapa orang datang sendirian untuk fokus berolahraga, namun tak sedikit juga kelompok keluarga dan sahabat yang menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas bersama. Olahraga terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan di tempat yang menawarkan kesejukan alami dan pemandangan luas tanpa batas.
Selain menjadi titik olahraga dan relaksasi, waduk juga menghadirkan pengalaman visual yang menarik. Air yang tenang menciptakan cermin raksasa, memantulkan bentuk pepohonan, awan, dan langit biru pada siang hari. Jika beruntung, pengunjung bisa melihat siluet perahu nelayan yang melintas di kejauhan menuju kawasan laut. Pemandangan ini menambah kesan bahwa waduk bukan hanya bagian dari kota, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Aceh utara.
Namun, waktu yang paling dinantikan di waduk ini adalah saat Golden Hour menyapa. Menjelang magrib, langit perlahan berubah. Dari biru cerah menjadi jingga lembut, kemudian bergradasi ke warna merah keemasan hingga ungu tua. Permukaan air ikut menangkap perubahan warna itu sehingga seolah-olah waduk berubah menjadi kanvas raksasa berisi lukisan hidup.




















