Wisata

Waduk Lhokseumawe, Ruang Publik yang Menyatu dengan Alam dan Ketenteraman Senja

×

Waduk Lhokseumawe, Ruang Publik yang Menyatu dengan Alam dan Ketenteraman Senja

Sebarkan artikel ini

Bukan hanya Haris, jalur jogging yang mengelilingi waduk memang menjadi daya tarik tersendiri. Di pagi dan sore hari, jalur ini ramai oleh pejalan santai, pelari, hingga komunitas pesepeda. Beberapa orang datang sendirian untuk fokus berolahraga, namun tak sedikit juga kelompok keluarga dan sahabat yang menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas bersama. Olahraga terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan di tempat yang menawarkan kesejukan alami dan pemandangan luas tanpa batas.

Selain menjadi titik olahraga dan relaksasi, waduk juga menghadirkan pengalaman visual yang menarik. Air yang tenang menciptakan cermin raksasa, memantulkan bentuk pepohonan, awan, dan langit biru pada siang hari. Jika beruntung, pengunjung bisa melihat siluet perahu nelayan yang melintas di kejauhan menuju kawasan laut. Pemandangan ini menambah kesan bahwa waduk bukan hanya bagian dari kota, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Aceh utara.

Namun, waktu yang paling dinantikan di waduk ini adalah saat Golden Hour menyapa. Menjelang magrib, langit perlahan berubah. Dari biru cerah menjadi jingga lembut, kemudian bergradasi ke warna merah keemasan hingga ungu tua. Permukaan air ikut menangkap perubahan warna itu sehingga seolah-olah waduk berubah menjadi kanvas raksasa berisi lukisan hidup.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Timphan selalu hadir ketika keluarga besar berkumpul. Saat hari raya tiba, para tetamu yang datang dari berbagai penjuru Aceh—bahkan dari luar daerah—akan selalu menanyakan apakah Timphan sudah tersedia. Makanan ini…

Wisata

Kehadiran para tetangga dan kerabat menjadi inti dari ritual ini. Meski terlihat sederhana, Seumapa memiliki makna sosial yang sangat dalam. Ia memperkuat jaringan persaudaraan, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus membentuk rasa…

Wisata

Dalam ranah adat, bahasa Aceh menjadi medium utama penyampaian nilai dan norma. Setiap prosesi adat, mulai dari peusijuek, kenduri, hingga upacara pernikahan, selalu dihiasi doa, petuah, dan syair yang disampaikan…

close