Untuk dapat tampil dalam sebuah pertunjukan Saman, proses latihan para penari tidaklah ringan. Setiap penari harus memiliki fokus tinggi, kekuatan fisik, pengaturan napas yang matang, serta kemampuan menghafal syair dan pola gerakan yang kompleks. Tempo dalam tarian ini bisa berubah sewaktu-waktu, dari lambat ke sangat cepat hanya dalam hitungan detik. Kedisiplinan dan kekompakan menjadi syarat mutlak karena satu kesalahan kecil saja dapat mengganggu formasi dan irama keseluruhan. Filosofi penting Saman pun tercermin di sini: kehidupan ibarat barisan penari, di mana kebersamaan, kepercayaan, dan ketepatan menjadi fondasi untuk meraih harmoni.
Seiring perkembangan zaman, Saman tidak lagi terbatas pada masyarakat Gayo Lues. Sekolah-sekolah, sanggar seni, pesantren, hingga komunitas diaspora di berbagai negara kini turut melatih dan mempertunjukkannya. Banyak generasi muda yang bangga mempelajarinya sebagai wujud kecintaan terhadap budaya Nusantara. Bahkan, di berbagai negara, mahasiswa Indonesia memperkenalkan Saman dalam acara budaya dan festival internasional, menjadikannya salah satu ikon seni Indonesia yang paling diingat oleh penonton mancanegara.




















