Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Peutjoet sebagai pusat edukasi tentang dampak perang dan kolonialisme, bukan sekadar objek wisata.
“Aceh bisa mengirim pesan dari sini: hentikan perang, mari berdialog tanpa senjata.”
Meski memiliki nilai sejarah besar dan potensi wisata internasional, ironi muncul dari fakta bahwa banyak warga lokal justru belum pernah berkunjung atau bahkan tidak mengetahui keberadaan situs monumental ini.
Seperti Iklima, warga Aceh Utara yang telah tinggal 12 tahun di Banda Aceh namun baru pertama kali mengunjungi Peutjoet.
“Padahal saya sudah lama tinggal di Banda Aceh, tapi ini pertama kalinya saya masuk ke sini,” katanya sambil memandangi deretan batu nisan.




















