Menurut Ambo Asse Ajis, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, perpaduan dua kata tersebut bukan terjadi kebetulan. Ia menilai proses penamaan ini mencerminkan simbol akulturasi dan penghormatan, meski dilahirkan dari era yang penuh kekerasan.
“Nama Peutjoet itu unik, karena mencerminkan pertemuan dua peradaban yang dahulu saling berhadapan. Penamaan ini adalah bentuk penghormatan terhadap dua tokoh berbeda sejarah,” ujar Ambo Asse saat ditemui beberapa waktu lalu.
Berjalan menyusuri jalur setapak di antara barisan nisan yang dibangun simetris, pengunjung akan menemukan banyak nama yang tercatat dalam buku sejarah kolonial. Beberapa di antaranya merupakan pemimpin ekspedisi perang yang sebelumnya memimpin operasi militer besar-besaran melawan rakyat Aceh.
Di kompleks ini, salah satunya dimakamkan Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, komandan pasukan Belanda pertama yang tewas di Aceh. Ia gugur pada 1873 di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada awal dimulainya Perang Aceh.





















