Setelah menyelesaikan ziarahnya di area makam yang khusyuk, Elza beralih ke sisi lain kompleks, menuju Pantai Syiah Kuala. Di sinilah letak pesona unik dari situs ini. Hanya beberapa langkah dari tempat doa dan munajat, terhampar pantai landai berpasir hitam yang tenang.
Di tepi tanggul, Elza membeli jagung bakar dan kopi khas Aceh. Ia duduk, menikmati semilir angin laut yang lembut. Suasana berubah drastis dari khusyuk menjadi santai. Deburan ombak yang lembut kini menggantikan lantunan zikir.
“Ini yang luar biasa. Kita bisa selesai berziarah, hati tenang, lalu langsung disambut pemandangan laut yang damai,” ujar Elza, pandangannya menerawang ke laut. “Makam ini adalah tempat di mana kita merawat iman, dan pantai di sebelahnya adalah tempat kita merawat diri.”
Kombinasi antara sejarah, spiritualitas, dan keindahan alam menjadikan Syiah Kuala magnet yang terus menarik peziarah, terutama saat akhir pekan. Elza mengamati ramainya pengunjung yang datang, baik rombongan yang ingin menggelar kenduri doa, maupun keluarga yang sekadar ingin menikmati senja.




















