Keutuhan Makam Syiah Kuala setelah Tsunami 2004 memang menjadi legenda yang memperkuat statusnya sebagai destinasi wisata religi unggulan. Di saat gelombang raksasa menyapu habis segala yang dilewatinya, makam ulama yang hidup pada abad ke-17 ini tetap tegak, seolah menjadi penanda keberkahan abadi. Fenomena inilah yang menarik peziarah dari berbagai penjuru dunia, dari Malaysia hingga Turki, untuk datang dan menyaksikan sendiri.
Di dalam kompleks makam, Elza menemukan Mahdalena, penjaga kolam yang bertugas membasuh wajah para peziarah. Mahdalena menceritakan tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun ini, yang berpusat pada air dari sumur di dalam kompleks makam.
Elza memutuskan untuk menjalani ritual tersebut. Saat air dingin menyentuh wajahnya, ia merasakan sensasi segar yang lebih dari sekadar fisik.
“Sebenarnya bukan pada airnya kita berpaham, tapi pada keyakinan. Karena di sekitar makam wali Allah ini, orang percaya ada berkah. Banyak yang datang karena hajat, ingin sembuh, ingin terkabul keinginan, atau sekadar menenangkan hati,” ujar Mahdalena.




















