Habanusantara – Di tepi Gampong Deah Raya, Banda Aceh, terdapat sebuah tempat bagi pengunjung untuk merenung, di mana batas antara ziarah spiritual dan liburan pantai menjadi kabur. Makam Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili, atau lebih dikenal sebagai Makam Syiah Kuala, berdiri anggun hanya sepelemparan batu dari ombak Pantai Syiah Kuala. Kompleks ini menawarkan harmoni yang jarang ditemukan, ketenangan batin ulama besar berpadu dengan ketenangan bahari di tepian pasir hitam.
Elza (28), seorang pengunjung yang datang dari jauh, menjejakkan kaki di kompleks makam tersebut dengan niat yang sederhana namun mendalam, mencari ketenangan. Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, ia datang ke Aceh, bukan hanya untuk melihat sisa-sisa Tsunami, tetapi untuk merasakan spiritualitas yang diyakini telah menyelamatkan makam ini.
“Saya datang bukan hanya karena sejarahnya, tapi karena aura di tempat ini. Rasanya damai sekali,” kata Elza, saat ia melangkah masuk, meninggalkan kebisingan kota di belakangnya.
“Saya sedang mencari keyakinan, dan saya dengar makam ini adalah simbol keteguhan yang diuji ombak 30 meter, namun tetap utuh,” ujarnya.




















