Di area bawah monumen, terdapat sebuah museum mini yang menampilkan foto-foto dokumentasi pasca-tsunami dan kisah-kisah penyintas yang terselamatkan di dalam kapal. Ketika pengunjung melangkah ke atas kapal, mereka bisa melihat pemandangan permukiman yang telah pulih dan membayangkan betapa mengerikannya posisi mereka saat air bah itu datang.
Uswa, seorang pengunjung dari Riau, berdiri termenung di atas kapal, menatap pemukiman di sekeliling.
“Melihat kapal ini di atas sini, rasanya seperti melihat sebuah keajaiban. Saya tidak bisa membayangkan kengerian saat itu. Ini bukan hanya tentang kapal yang terdampar, tapi tentang harapan terakhir bagi 59 orang yang berlindung di dalamnya,” ujarnya dengan nada haru.
Kapal ini menjadi simbol kemanusiaan di tengah bencana. Sembilan belas tahun berlalu, rumah-rumah di sekitarnya sudah dibangun kembali, dan kehidupan masyarakat Lampulo telah kembali normal. Namun, kapal ini tetap di sana, abadi, sebagai pengingat akan tragedi dan ketabahan.




















