Wisata

Tenun Songket Putri Lindung Bulan, Warisan Budaya Aceh Tamiang yang Sarat Filosofi

×

Tenun Songket Putri Lindung Bulan, Warisan Budaya Aceh Tamiang yang Sarat Filosofi

Sebarkan artikel ini
Songket Putri Lindung Bulan
Songket Putri Lindung Bulan

Habanusantara.net, Aceh Tamiang tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan kulinernya, tetapi juga memiliki warisan budaya yang mendalam berupa tenun songket Putri Lindung Bulan. Kain tradisional ini tidak sekadar menjadi busana, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan masyarakat setempat, menyimpan filosofi yang kaya di setiap helainya.

Tenun songket ini dihasilkan dengan teknik tradisional menggunakan alat tenun manual, mencerminkan keterampilan luar biasa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Motif-motif khasnya seperti Bungoeng Panjoe, Tampok Manggis, Datok Empat Suku, Susun Sireh Berangkai Biji Timun, hingga Awan Berarak bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna. Setiap pola mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bumi Muda Sedia, kawasan di Aceh Tamiang yang dikenal betuah.

Desi, seorang kolektor kain tradisional yang telah mengoleksi berbagai kain dari Nusantara, mengungkapkan kekagumannya terhadap songket Putri Lindung Bulan. “Motif-motifnya sangat khas, dan setiap pola punya cerita tersendiri. Ketika saya mengenakan kain ini, rasanya seperti membawa sebagian dari budaya Aceh Tamiang ke mana pun saya pergi,” ujarnya.

Proses pembuatan kain ini pun tidak sederhana. Dibutuhkan ketelatenan dan waktu yang panjang, bahkan hingga berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu lembar kain. Hal ini menjadikan songket Putri Lindung Bulan lebih dari sekadar kain biasa—ia adalah karya seni yang hidup. Menurut Erlina, seorang pengrajin tenun di Aceh Tamiang, setiap motif mengandung filosofi mendalam. “Misalnya, motif *Tampok Manggis* melambangkan kerendahan hati dan kebersamaan, sementara *Susun Sireh* melambangkan kekuatan ikatan adat dalam masyarakat,” jelasnya.

Keunikan kain ini telah mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2021, sebanyak 25 motif songket Putri Lindung Bulan resmi dipatenkan oleh Ditjen HaKI Kementerian Hukum dan HAM RI. Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam melindungi warisan budaya Aceh Tamiang dari klaim pihak lain sekaligus memperkenalkannya ke dunia.

Tak hanya itu, songket ini juga berhasil masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2022, sebuah penghargaan bergengsi di bidang pariwisata dan budaya. Keikutsertaan ini menjadi bukti kualitas songket Putri Lindung Bulan yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Tari, seorang wisatawan asal Jakarta yang membeli kain ini sebagai oleh-oleh, mengungkapkan kekagumannya. “Motifnya luar biasa cantik, dan pengerjaannya sangat detail. Ketika saya tahu bahwa kain ini dibuat secara manual, saya semakin menghargainya. Harga kain ini sebanding dengan kerja keras dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

Harga songket Putri Lindung Bulan memang variatif, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada kerumitan motif dan ukuran kain. Selain menjadi cinderamata, kain ini juga kerap dipakai dalam acara-acara adat penting seperti pesta pernikahan, perayaan ulang tahun daerah, hingga sebagai simbol kehormatan dalam upacara resmi.

Di tengah arus modernisasi, pemerintah daerah dan berbagai pihak terus berupaya melestarikan tenun songket ini. Salah satu caranya adalah melalui pelatihan menenun bagi generasi muda. Pelatihan ini bertujuan agar mereka tidak hanya terampil, tetapi juga memahami nilai sejarah dan filosofi di balik setiap motif.

Songket Putri Lindung Bulan
Songket Putri Lindung Bulan

Menurut Erwin, Kepala Dekranasda Aceh Tamiang, upaya pelestarian songket ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemberdayaan para pengrajin melalui pelatihan, pameran budaya, dan pemasaran digital. “Kami ingin memastikan bahwa tenun songket Putri Lindung Bulan tidak hanya dikenal di Aceh Tamiang, tetapi juga menjadi identitas budaya Aceh yang dikenal luas hingga mancanegara,” katanya.

Selain promosi budaya, kain ini juga menjadi simbol resistensi terhadap homogenisasi budaya akibat modernisasi. Melalui motifnya yang kaya akan filosofi, songket Putri Lindung Bulan menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan tradisi dan menghormati kearifan lokal.

Dengan daya tarik visual yang menawan dan makna filosofis yang mendalam, songket Putri Lindung Bulan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Tamiang tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa budaya tradisional dapat terus hidup dan relevan di tengah dunia yang terus berubah. [***]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close