Habanusantara.net – Sebanyak 50 mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) resmi diberangkatkan ke Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (31/1/2026). Pelepasan tersebut menandai dimulainya implementasi Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026.
Prosesi pelepasan berlangsung khidmat di halaman kampus dan dihadiri pimpinan institusi, dosen pembimbing, serta jajaran pengurus BEM. Puluhan mahasiswa itu akan menjalankan program bertajuk “Sistem Peringatan Dini Banjir Cerdas dan Pencahayaan Mandiri Berbasis IoT-Solar Cell untuk Desa Tangguh Bencana” yang dipimpin oleh Muhammad Wali, S.Kom., M.M.
Selama satu bulan penuh, hingga 28 Februari 2026, para mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat di Gampong Lhok Sandeng, Kabupaten Pidie Jaya. Di lapangan, mereka akan fokus pada pemasangan sistem peringatan dini banjir berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan pencahayaan mandiri tenaga surya.
Adapun rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi instalasi perangkat sensor ketinggian air berbasis IoT, pemasangan solar cell sebagai sumber energi mandiri, edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana kepada warga, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengoperasian dan perawatan sistem teknologi tersebut. Selain itu, mahasiswa juga melakukan pendampingan sosial bagi warga terdampak bencana.
Ketua BEM STMIK Indonesia Banda Aceh, Ridho Mahara, menyampaikan antusiasme mahasiswa untuk terjun langsung membantu masyarakat.
“Ini kesempatan emas bagi kami untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Kami ingin teknologi yang kami pasang benar-benar bisa digunakan dan dipahami warga,” ujarnya saat acara pelepasan.
Pihak kampus, lanjutnya, memberikan dukungan penuh mulai dari persiapan teknis dan logistik, pendampingan dosen, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Program ini juga menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Ketua tim program, Muhammad Wali, menegaskan bahwa sistem yang dipasang dirancang agar tetap berfungsi saat terjadi pemadaman listrik akibat banjir.
“Dengan dukungan solar cell, sistem tetap aktif meski jaringan listrik terganggu. Ketika debit air mencapai ambang batas, notifikasi akan dikirim secara real time sehingga masyarakat dapat segera melakukan langkah antisipasi,” jelasnya.
Melalui program ini, Gampong Lhok Sandeng diharapkan dapat menjadi model desa tangguh bencana berbasis teknologi di Kabupaten Pidie Jaya. Transfer pengetahuan dan pelibatan aktif warga menjadi kunci agar sistem yang dibangun tidak hanya terpasang, tetapi juga berkelanjutan.
Para mahasiswa dijadwalkan kembali ke Banda Aceh pada awal Maret 2026 setelah seluruh rangkaian kegiatan rampung. Hasil pelaksanaan program akan dievaluasi dan didokumentasikan sebagai model pengabdian masyarakat berbasis teknologi yang berpotensi direplikasi di wilayah lain di Aceh.





