Dua Dosen STMIK Indonesia Banda Aceh Lolos Pendanaan Nasional, Usung Teknologi Cerdas Tanggulangi Banjir Aceh

Redaksi
Muhammad Wali dan Taufiq Iqbal
Muhammad Wali dan Taufiq Iqbal, Dua Dosen STMIK Indonesia Banda Aceh Lolos Pendanaan Nasional, Usung Teknologi Cerdas Tanggulangi Banjir Aceh
A-AA+A++

Habanusantara.net– STMIK Indonesia Banda Aceh kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua dosennya berhasil lolos pendanaan dalam Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026.

Pengumuman resmi tersebut dikeluarkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui surat Nomor 0156/C3/AL.04/2026 tertanggal 26 Januari 2026.

Adapun dua dosen yang berhasil meraih pendanaan nasional itu adalah Muhammad Wali dan Taufiq Iqbal, dengan masing-masing program berbasis teknologi cerdas untuk mitigasi banjir di Aceh.

Muhammad Wali mengusung program berjudul “Sistem Peringatan Dini Banjir Cerdas dan Pencahayaan Mandiri Berbasis IoT-Solar Cell untuk Desa Tangguh Bencana di Gampong Lhok Sandeng, Kabupaten Pidie Jaya.” Program ini akan diterapkan di Gampong Lhok Sandeng, wilayah yang kerap terdampak luapan air saat musim hujan.

“Kami merancang sistem peringatan dini berbasis Internet of Things yang terintegrasi dengan pencahayaan mandiri tenaga surya. Ketika debit air meningkat, sistem akan mengirimkan notifikasi secara real time kepada perangkat desa dan masyarakat,” ujar Muhammad Wali saat ditemui di Banda Aceh, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, penggunaan panel surya menjadi solusi strategis mengingat saat banjir sering terjadi pemadaman listrik. Dengan sistem mandiri berbasis solar cell, alat tetap berfungsi meski jaringan listrik terganggu.

Sementara itu, Taufiq Iqbal menghadirkan inovasi melalui program bertajuk “Implementasi Sistem Proteksi Banjir Otomatis Bertenaga Solar Panel untuk Ketahanan Gampong oleh Mahasiswa Berdampak di Gampong Juli Meunasah Teungoh, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.”

Taufiq menjelaskan, sistem yang dikembangkan tidak hanya memberikan peringatan dini, tetapi juga mengaktifkan mekanisme proteksi otomatis saat ketinggian air mencapai ambang batas tertentu.

“Kami ingin membangun sistem proteksi yang responsif dan ramah lingkungan. Energi terbarukan menjadi kunci agar teknologi ini berkelanjutan dan dapat dioperasikan langsung oleh masyarakat,” kata Taufiq.

Kedua program tersebut mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan energi terbarukan, sekaligus menekankan pemberdayaan masyarakat serta keterlibatan mahasiswa dalam proses implementasi di lapangan.

Sesuai ketentuan dari DPPM, pengiriman mahasiswa ke lokasi kegiatan dimulai pada 28 Januari 2026 dan akan berlangsung hingga 28 Februari 2026. Para mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat untuk memastikan transfer pengetahuan dan keberlanjutan program berjalan optimal.

Keberhasilan ini menjadi bukti komitmen STMIK Indonesia Banda Aceh dalam mengembangkan riset terapan dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung terhadap penanganan bencana di Aceh. Melalui kolaborasi teknologi dan pemberdayaan warga, Gampong Lhok Sandeng di Kabupaten Pidie Jaya serta Gampong Juli Meunasah Teungoh di Kabupaten Bireuen diharapkan dapat menjadi model desa tangguh bencana berbasis teknologi di masa mendatang.[]