Habanusantara.net– Papan penunjuk jalan itu terasa jujur, bahkan jenaka. “Biar gak nyesal, terusin jalan ke depan 1,2 kilometer,” demikian bunyinya, menjadi penyemangat terakhir bagi para pencari ketenangan yang telah menempuh perjalanan 25 menit dari hiruk-pikuk Banda Aceh. Kalimat sederhana itu seolah menjanjikan imbalan setimpal setelah membelah perkampungan Desa Naga Umbang. Dan benar saja, di ujung jalan, tersembunyi sebuah permata, Teupin Balok.
Jalur menuju Teupin Balok sendiri merupakan bagian dari terapi pelarian. Di kanan-kiri, kebun-kebun jati berjejer rapi, membentuk terowongan teduh yang memfilter sinar matahari. Udara kota yang berat perlahan berganti dengan aroma daun kering dan tanah yang lembab. Motor roda dua yang melintas sesekali menjadi satu-satunya interupsi dalam simfoni kesunyian pedesaan.
“Perjalanan ke sini itu rasanya seperti sudah memulai istirahatnya,” kata Yanti, seorang pekerja kantoran dari Banda Aceh yang sengaja datang mencari jeda dari rutinitas. Ia sudah tiba sejak pagi, memilih jam-jam awal sebelum matahari benar-benar naik.
“Disini kalau pagi-pagi, adem sekali. Apalagi hari ini cuacanya sangat mendukung, tidak begitu panas dan tidak hujan. Sinar matahari yang menembus daun jati itu membuat suasana di jalan terasa menyenangkan,” tambahnya, puas dengan pilihannya untuk kabur sejenak.
Pada belokan terakhir, seluruh pemandangan berubah drastis. Jalan beraspal berakhir, dan pandangan langsung disambut oleh danau kecil yang tenang, airnya memancarkan warna biru kehijauan yang memesona pertemuan lembut antara sungai dan laut yang dikelilingi rimbunnya pepohonan.
Teupin Balok bukan destinasi yang menawarkan kemewahan. Justru kesederhanaan dan kejujurannya lah yang menjadi daya tarik utama. Beberapa pondok bambu berdiri tegak di tepi air, menunggu siapa saja yang ingin bersantai. Menariknya, pondok-pondok ini tidak disewakan per jam atau per hari. Mereka adalah bagian dari etalase keramahan lokal.
Aturan mainnya sungguh adil dan sederhana, untuk menikmati keteduhan pondok dan pemandangan air yang memikat, pengunjung cukup memesan makanan atau minuman dari warung kecil di lokasi. Menu yang ditawarkan pun tak neko-neko: Indomie, gorengan hangat, kopi saring khas Aceh, dan jus buah nipah lokal.
“Harganya tergolong murah untuk sekelas tempat wisata, bahkan kafe-kafe di tengah kota tidak menawarkan suasana damai dengan harga segini,” kata Yanti, sembari mengaduk kopi dan menikmati Mie goreng Aceh yang mengepul, rasanya pas dinikmati di tengah suasana alam terbuka.

Kelebihan Teupin Balok terletak pada keasliannya. Di sini, pengunjung tidak akan menemukan musik keras house atau dekorasi yang mencolok hasil rekayasa. Suasana tercipta oleh suara-suara alam itu sendiri. Menjelang siang, saat matahari mulai terasa di atas kepala, hawa justru terasa hangat dan menenangkan.
Yanti menunjuk ke arah kolam ikan yang berada di dekat pondoknya. Dari sana, sesekali terdengar suara kecipak air yang lembut, irama yang dihasilkan oleh ikan-ikan yang berenang pelan. Suara itu menjadi soundtrack alami bagi ketenangan siang itu.
“Disini tenang, enggak berisik, suasananya juga sejuk. Asik untuk istirahat di sela-sela kesibukan kerja,” Yanti berujar, merefleksikan bagaimana kesunyian di sini menjadi kemewahan yang tak ternilai harganya. Bagi mereka yang bosan dengan rutinitas kota, Teupin Balok adalah ruang untuk mengosongkan pikiran, tempat di mana energi dikembalikan, bukan dikuras.
Dari pondok bambu tempat Yanti duduk, pemandangan membentang luas, menghadap perbukitan hijau yang menjadi batas cakrawala. Air biru kehijauan yang tenang memantulkan bayangan langit, menciptakan suasana yang intim dan menentramkan.
Teupin Balok mungkin tidak pernah seramai destinasi wisata populer lainnya di Aceh Besar, namun ia telah berhasil menemukan ceruknya sendiri sebagai tempat pelarian otentik yang menghargai ketenangan, keindahan alami, dan kearifan lokal dalam menjamu tamunya. Ia membuktikan bahwa untuk merasakan surga kecil, yang dibutuhkan hanyalah jalan yang ramah, air yang tenang, dan secangkir kopi sederhana.




















