Wisata

Kue Nyap Aceh Tamiang, Warisan Budaya yang Tetap Lestari di Tengah Modernitas

×

Kue Nyap Aceh Tamiang, Warisan Budaya yang Tetap Lestari di Tengah Modernitas

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net, Kue Kembang Loyang atau lebih dikenal dengan sebutan Kue Nyap, merupakan salah satu kue tradisional yang memiliki daya tarik tersendiri di Aceh Tamiang.

Dalam setiap gigitan, kue ini tak hanya menawarkan rasa manis dan renyah, tetapi juga menyimpan filosofi yang mendalam, menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Meski zaman terus berkembang, kue ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Aceh Tamiang yang kaya akan cerita dan tradisi.

Kue Nyap yang berbentuk bunga ini memiliki tekstur yang renyah dan cita rasa manis yang pas di lidah. Kue ini biasanya terbuat dari bahan dasar tepung beras yang dicampur kelapa parut, menghasilkan aroma yang menggoda selera.

“Kue ini selalu menjadi primadona di acara-acara adat, perayaan hari besar, hingga sekadar cemilan sehari-hari,” kata Intan, seorang pengusaha kecil yang sudah hampir 10 tahun membuat Kue Nyap. “Paling enak dimakan dengan secangkir kopi Aceh,” tambahnya.

Di Aceh Tamiang, Kue Nyap bukan hanya sekedar camilan manis. Bentuknya yang menyerupai bunga melambangkan kehidupan yang berkembang dan penuh harapan, seperti bunga yang mekar.

“Masyarakat Aceh Tamiang percaya bahwa bentuk bunga pada kue ini merepresentasikan harapan akan kehidupan yang indah,” ujar Fatimah, seorang tokoh masyarakat Aceh Tamiang.

Filosofi ini membuat Kue Nyap lebih dari sekedar kuliner, tetapi juga simbol dari kearifan lokal dan budaya yang kaya.

Seiring berjalannya waktu, Kue Nyap telah menjadi bagian dari tradisi kuliner yang terjaga, meskipun berbagai kue modern bermunculan.

“Meskipun banyak kue baru yang muncul, Kue Nyap tetap digemari,” ujar Intan, yang setiap bulannya memproduksi ratusan kilogram kue ini.

Keberadaan kue ini di pasar-pasar tradisional dan toko kue membuktikan bahwa tradisi kuliner Aceh Tamiang masih bertahan dan tetap hidup di tengah dominasi makanan modern.

Kue Nyap ini juga memiliki nilai historis yang tak kalah menarik. Meski asal-usulnya tidak tercatat secara pasti, banyak yang meyakini bahwa kue ini merupakan hasil akulturasi budaya Melayu dan Tionghoa.

Penggunaan tepung beras mengindikasikan pengaruh budaya Melayu, sementara teknik penggorengan dengan cetakan menyerupai bunga mirip dengan kue-kue tradisional Tionghoa.

Cerita rakyat Aceh Tamiang bahkan menceritakan kisah seorang putri raja yang sangat mencintai Kue Nyap. Dalam kisah tersebut, sang putri memerintahkan rakyatnya untuk membuat kue ini dalam jumlah yang sangat banyak dan membagikannya kepada seluruh penduduk kerajaan.

“Biasanya, orang-orang memesan Kue Nyap untuk acara adat, pernikahan, atau perayaan hari besar Islam,” kata Intan.

Dengan harga yang masih terjangkau, sekitar Rp 80.000 per kilogram, Kue Nyap menjadi pilihan favorit banyak orang untuk berbagai kesempatan. Bahkan di beberapa warung kopi di Aceh Tamiang dan Langsa, kue ini dijadikan teman minum kopi yang nikmat.

Namun, meskipun kue ini masih bisa ditemukan di beberapa pasar tradisional dan toko kue, keberadaannya semakin langka.

“Sekarang, Kue Nyap sudah jarang ditemukan di banyak tempat. Biasanya hanya ada di hari-hari besar Islam atau acara adat tertentu,”kata Tama, seorang warga Aceh Tamiang yang sering membeli Kue Nyap untuk keperluan adat di rumahnya.

“Bagi saya, Kue Nyap ini sudah menjadi bagian dari hidup saya. Sejak kecil, saya sering melihatnya di rumah, dan sekarang saya tetap membelinya untuk melestarikan tradisi Aceh,” tambah Tama.

Intan sendiri menyebutkan bahwa meskipun banyak kue modern yang mulai menggeser peran Kue Nyap, ada semangat untuk tetap mempertahankan tradisi ini.

 

“Saya ingin kue ini tetap dikenal dan dinikmati oleh generasi muda,” ujarnya. Selain Kue Nyap, Intan juga memproduksi berbagai kuliner khas Aceh lainnya, yang semakin melengkapi kekayaan kuliner daerah ini.

Kue Nyap Aceh Tamiang adalah warisan budaya yang patut dilestarikan, bukan hanya sebagai simbol kuliner, tetapi juga sebagai pengingat akan keindahan tradisi yang terjaga meskipun dunia terus berubah.

Di balik setiap gigitan renyahnya, terkandung harapan agar budaya ini tetap lestari, dan keindahan Aceh Tamiang tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Maka dari itu, menjaga dan melestarikan Kue Nyap adalah upaya penting dalam mempertahankan identitas budaya Aceh, yang dapat terus dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan yang datang ke Kabupaten Paling Ujung Aceh.***

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close