Wisata

Di Balik Bukit Peukan Bada, Ujung Pancu Menawarkan Jeda yang Mempesona

×

Di Balik Bukit Peukan Bada, Ujung Pancu Menawarkan Jeda yang Mempesona

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net– Ketika akhir pekan tiba, hiruk-pikuk tawa dan riuh ombak mendominasi pantai-pantai populer Aceh Besar. Namun, bagi sebagian pencari ketenangan, tempat istirahat sejati justru tersembunyi di balik perbukitan Peukan Bada. Inilah Ujung Pancu, sebuah pantai yang tidak hanya menawarkan pemandangan laut biru dan bukit hijau, tetapi juga keheningan yang dijaga oleh tradisi dan penghormatan.

​Ujung Pancu, yang berlokasi di Desa Lampageu, adalah sebuah tempat persembunyian yang terletak di kaki gunung. Perjalanan menuju ke sana sekitar 25 menit dari pusat Kota Banda Aceh adalah proses melepaskan diri yang nyata. Jalanan, meski sudah beraspal, memiliki retakan dan lubang di beberapa titik. Namun, kecacatan ini justru menambah kesan alami pada perjalanan.

​Semakin dalam memasuki area tersebut, udara semakin jernih dan bersih, ditinggalkan oleh polusi kota. Di sini, perumahan nelayan yang asri berbaur dengan pepohonan lebat yang seolah menjadi gerbang menuju pantai tersembunyi tersebut.

​“Udara di sini jernih, ringan, dan bersih. Itu yang saya cari,” kata Fazliana, seorang warga Banda Aceh, yang memilih Ujung Pancu sebagai tempat pelariannya.

“Untungnya cuaca siang ini bersahabat, enak buat bersantai. Kalau hujan, jalan ke sini agak becek karena masih ada lubang di beberapa titik. Tapi effort (upaya) itu sepadan,” ujarnya.

​Pesona Ujung Pancu terletak pada kesederhanaannya yang tidak ingin diubah. Di sini, keindahan alam disajikan tanpa tiket masuk dan tanpa dekorasi buatan yang mencolok. Ia adalah ruang terbuka, tempat di mana siapa pun boleh datang untuk duduk diam, menikmati suara angin dan debur ombak.

​Namun, ketenangan Ujung Pancu bukan hanya hasil dari lokasinya yang tersembunyi. Keheningan itu dijaga oleh sebuah kesepakatan spiritual yang dihormati secara turun-temurun oleh warga setempat.

​Di puncak perbukitan yang menaungi pantai ini, bersemayam makam ulama sekaligus sastrawan besar Aceh, Syaikh Hamzah Al-Fansuri. Keberadaan makam ini menanamkan rasa hormat yang mendalam, menciptakan batas suci antara rekreasi dan penghormatan.

​Aturan yang dibuat secara tertulis menjadi unik, setiap Kamis sore hingga Jumat siang, seluruh kegiatan wisata di Ujung Pancu dihentikan sementara.

​Jeda spiritual ini memastikan bahwa kemurnian dan ketenangan tempat tersebut tetap terjaga, membedakan Ujung Pancu dari pantai-pantai lain yang tak pernah tidur. Kepatuhan pada aturan ini menjamin bahwa setiap pengunjung, seperti Fazliana, dapat menikmati ketenangan yang tulus, yang tidak terganggu oleh hiruk-pikuk komersial.

​Saat akhir pekan tiba, Ujung Pancu menjadi surga bagi mereka yang mencari pelarian non-massal. Fazliana mengamati pengunjung yang datang ada yang bersama keluarga, ada pula yang membawa alat pancing, duduk di tanah yang menjorok ke laut, sabar menunggu umpan disambar ikan.

​Dari pondok-pondok sederhana milik warga yang berjejer di sepanjang pantai, tercium aroma mi instan dan kopi panas, menu paling jujur untuk dinikmati di tengah pemandangan alam.

​”Suasananya adem kalau sore. Disini juga tidak seramai tempat wisata lain. Kadang cuma duduk diam lihat laut sambil makan mi aja sudah cukup,” kata Fazliana, sambil menikmati mi yang mengepul.

​Saat air mulai surut, ia melihat warga sekitar turun ke tepi, membawa ember dan goni bekas, mencari tiram untuk menambah penghasilan. Pemandangan ini adalah bagian dari ritme kehidupan alami Ujung Pancu tanpa dibuat-buat.

​Di Ujung Pancu, waktu seakan melambat, dan kesibukan kota terasa jauh. Gunung yang berdiri gagah di belakang pantai seolah menjadi penjaga keheningan, menjamin bahwa pesona Ujung Pancu akan tetap utuh.

​“Tempat ini sederhana. Tapi penuh makna,” tutup Elvin, menegaskan bahwa nilai sejati dari Ujung Pancu bukanlah pada keramaiannya, melainkan pada kemampuannya menyajikan jeda yang jujur dan damai. Ujung Pancu adalah oase bagi jiwa yang lelah, sebuah tempat di mana keindahan alam berpadu harmonis dengan penghormatan spiritual.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close