Wisata

Masjid Giok Nagan Raya, Perpaduan Kemegahan Arsitektur dan Kekayaan Alam yang Jadi Ikon Wisata Religi Aceh

×

Masjid Giok Nagan Raya, Perpaduan Kemegahan Arsitektur dan Kekayaan Alam yang Jadi Ikon Wisata Religi Aceh

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata religi di Aceh, Kabupaten Nagan Raya menghadirkan sebuah destinasi spiritual yang tidak hanya mengundang kekaguman, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekayaan alam dapat bersanding indah dengan nilai-nilai keagamaan. Masjid Agung Baitul A’la, yang lebih populer dengan sebutan Masjid Giok, berdiri megah di Kompleks Perkantoran Suka Makmue, Kecamatan Suka Makmue, sebagai bukti bahwa karya arsitektur Islam dapat lahir dari material lokal yang diolah dengan rasa bangga dan ketelitian tinggi.

Masjid ini terletak sekitar lima jam perjalanan dari Kota Banda Aceh. Akses yang mulus dan nyaman membuatnya mudah dijangkau para penziarah, wisatawan, maupun pencinta arsitektur Islam. Setibanya di kompleks masjid, para pengunjung akan langsung disambut oleh bangunan besar dengan fasad putih bersih.

Bentuknya elegan, modern, dan terstruktur rapi melalui permainan garis vertikal, jendela lengkung, serta anak tangga lebar yang menjulang. Ornamen geometris khas Islam menghiasi hampir seluruh bagian dinding luar, memberikan sentuhan artistik tanpa meninggalkan identitas budaya.

Namun keindahan sesungguhnya baru terungkap ketika kaki melangkah masuk ke ruang utama. Di dalamnya, Masjid Giok menawarkan nuansa kemewahan yang jarang ditemui pada masjid lain, bahkan di tingkat nasional. Hampir seluruh bagian interior—mulai dari lantai, pilar, hingga sebagian dinding—dilapisi batu giok murni yang berasal dari perbukitan Singgah Mata di Nagan Raya.

Batu-batu giok ini telah lama dikenal memiliki tingkat kekerasan melebihi granit. Pengolahannya pun menggunakan mesin khusus agar menghasilkan panel-panel marmer mengkilap yang kemudian disusun menjadi struktur masjid.

Pilar-pilar masif di dalam masjid menjadi pusat perhatian bagi siapapun yang masuk. Pilar tersebut diselimuti giok berwarna hijau tua dengan guratan keemasan dan cokelat yang terbentuk secara alami, menciptakan perpaduan warna yang hangat sekaligus megah. Ketika cahaya menimpa permukaan pilar, pantulan yang tercipta menghadirkan kesan elegan dan tenang. Lantai giok yang berkilau turut memperkuat efek visual tersebut, membuat seluruh ruang terasa sejuk, lapang, dan memancarkan rasa sakral yang dalam.

Mimbar utama di area mihrab juga dihias dengan ornamen ukir halus yang diberi aksen emas, berpadu serasi dengan dinding-dinding giok di sekelilingnya. Detail-detail ini memperlihatkan betapa telitinya proses pembuatan interior masjid yang memadukan aspek estetika dengan nilai spiritual.

Muhammad, seorang pengunjung yang datang jauh-jauh dari Banda Aceh, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat ditemui. “Saya sangat bersyukur bisa mengunjungi salah satu masjid paling unik di Aceh. Masjid ini benar-benar berbeda karena hampir semuanya terbuat dari giok murni,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa suasana di dalam masjid begitu tenang, memberi ruang bagi siapa pun untuk merasakan kekhusyukan yang lebih dalam. “Ketika kita salat di sini, rasanya damai sekali. Giok-giok ini seolah memancarkan ketenangan alam.”

Ketenangan tersebut bukan semata-mata datang dari material bangunan, tetapi juga dari tata ruang yang dirancang dengan memperhitungkan kenyamanan jemaah. Ruangan yang tinggi membuat udara terasa lebih sejuk. Tirai abu-abu yang dipasang rendah di beberapa sisi ruang salat memberikan privasi sekaligus meredakan cahaya dari luar, menciptakan suasana yang lebih tenang.

Masjid berukuran 75 x 47,5 meter ini berdiri di atas lahan seluas tiga hektar dan mampu menampung hingga 5.600 jemaah. Kapasitas besar ini menjadikan Masjid Giok sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang berinteraksi bagi masyarakat setempat. Di luar fungsi ibadah, masjid ini juga menjadi media edukasi budaya dan sejarah, terutama karena penggunaan batu giok dalam skala besar menjadi fenomena tersendiri.

Pembangunan masjid ini berlangsung sekitar 12 tahun dan menelan anggaran ratusan miliar rupiah. Proses panjang tersebut terbayar dengan hasil yang menjadi kebanggaan masyarakat Nagan Raya. Keunikan masjid yang memanfaatkan kekayaan alam daerah membuatnya meraih penghargaan tingkat nasional, salah satunya sebagai Juara 2 kategori Destinasi Wisata Unik dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2025.

Kini, Masjid Agung Baitul A’la bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga ikon pariwisata religi sekaligus simbol identitas Kabupaten Nagan Raya. Para wisatawan yang datang tidak hanya beribadah, tetapi juga menikmati keindahan seni, arsitektur, dan ketenangan yang dihadirkan seluruh sudut masjid. Di sini, geologi dan teologi bertemu, saling melengkapi dan menciptakan ruang spiritual yang memukau baik secara visual maupun batin.

Dengan karakter arsitektur yang unik, pemanfaatan batu giok asli, dan suasana ibadah yang hening, Masjid Giok Nagan Raya menjadi destinasi yang layak masuk daftar perjalanan siapa pun yang ingin menemukan kedamaian sekaligus kekaguman di Tanah Rencong.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close