“Saya kagum dengan hasil kerja sama SAHI dan warga Tibang. Mereka tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menciptakan produk ekonomi dari sampah daun-daun kering. Saya dengar mereka sudah menjual 1.500 kg pupuk organik per minggu. Itu keren sekali! Hutan ini bukan hanya tempat bersantai, tapi juga pusat produksi hijau,” tegas Salsa.
Hutan Kota Tibang telah menjelma menjadi taman edukasi penting bagi pelajar, di mana mereka dapat mempelajari keanekaragaman flora dan fauna secara langsung. Kawasan rawa bakau, yang dapat diamati dari jembatan di atasnya, sering dijadikan latar swafoto dan bahan penelitian ilmiah tentang ekosistem pesisir.
Kisah sukses pengelolaan Hutan Kota Tibang telah diakui secara nasional, dengan diraihnya Juara III penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) tingkat Nasional. Prestasi ini mengukuhkan posisi Hutan Kota Tibang sebagai salah satu model terbaik pengelolaan ruang hijau di Indonesia.




















