Wisata

Fenomena Wisata Kerang Lampulo, Alternatif Healing Murah yang Semakin Populer di Banda Aceh

×

Fenomena Wisata Kerang Lampulo, Alternatif Healing Murah yang Semakin Populer di Banda Aceh

Sebarkan artikel ini

BITHE.co – Siapa yang membayangkan bahwa di tengah kesibukan Kota Banda Aceh terdapat sebuah destinasi sederhana namun sarat pesona, yang menawarkan perpaduan antara aktivitas rekreasi, interaksi sosial, hingga petualangan kecil berburu “harta karun” dari laut? Tempat itu bukanlah pantai mewah dengan fasilitas lengkap atau deretan kafe pesisir, melainkan sebuah kawasan lumpur pasang surut di pesisir Lampulo, Kecamatan Kuta Alam—hanya sekitar sepuluh menit dari pusat kota.

Di lokasi yang kerap dikaitkan dengan perairan Syiah Kuala ini, masyarakat menemukan cara unik mengisi waktu luang: berburu kerang saat air laut surut. Fenomena ini bukan hal baru bagi warga setempat, namun beberapa tahun belakangan aktivitas ini semakin populer, terutama di kalangan anak muda yang mencari kegiatan berbeda dari rutinitas digital.

Setiap akhir pekan, terutama saat matahari mulai condong ke barat, kawasan pesisir Lampulo mendadak hidup. Begitu air surut dan hamparan lumpur hitam kecokelatan terbuka, puluhan orang langsung menyebar di area tersebut. Mereka berjongkok, duduk santai, atau berjalan perlahan sambil mengamati permukaan tanah berlumpur.

Pemandangan tersebut sangat khas. Mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu dengan penutup kepala berwarna cerah, disusul bapak-bapak yang membawa wadah kecil, serta yang paling mencuri perhatian—para remaja dan mahasiswa Gen Z. Dengan metode sederhana, mereka mengobrak-abrik lumpur menggunakan tangan kosong atau sendok kecil untuk menemukan kerang yang bersembunyi di bawah permukaan.

Di kejauhan, garis siluet perahu nelayan menjadi latar belakang yang memperkuat suasana pesisir. Angin laut berembus lembut membawa aroma khas air asin, menciptakan atmosfir damai yang sulit ditemukan di tempat wisata modern yang serba ramai.

Daya tarik aktivitas ini terletak pada kesederhanaan dan sifatnya yang inklusif. Ibu-ibu yang sudah berpengalaman bergerak cekatan mengumpulkan hasil buruan, sementara anak-anak bermain lumpur tanpa rasa jijik. Para remaja, di sisi lain, menemukan pengalaman baru yang mereka sebut sebagai bentuk “healing” anti-mainstream—jauh dari kebiasaan menatap layar ponsel atau nongkrong di kafe.

Udin (20), yang merupakan seorang mahasiswa yang sore itu tampak antusias berburu kerang bersama teman-temannya, mengaku bahwa aktivitas sederhana ini memberikan sensasi yang berbeda.

“Menarik kegiatan mencari kerang, walaupun lelah tapi menyenangkan,” ujarnya sambil tetap mengaduk lumpur dengan penuh konsentrasi.

Baginya, nilai utama dari berburu kerang bukan hanya pengalaman mencari, tetapi juga kualitas hasil buruannya. Ia mengaku bahwa kerang yang baru diambil dari habitatnya memiliki cita rasa lebih segar dan manis.

“Paling enak itu kalau langsung dimasak sama mie instan—jadi mie kerang. Gurihnya beda banget,” katanya dengan semangat.

Meski terlihat sederhana, aktivitas ini menawarkan banyak makna. Ada sensasi kepuasan ketika tangan akhirnya menemukan kerang setelah beberapa menit mengaduk lumpur. Ada pula momen kebersamaan yang muncul secara spontan ketika para pengunjung saling berbagi cerita, tips, atau sekadar bergurau saat menemukan kerang berukuran besar.

Selain manfaat rekreasi, kegiatan ini juga memberi pemasukan tambahan bagi sebagian warga. Tidak jarang kerang yang didapat dijual kembali, atau dimasak untuk konsumsi keluarga. Namun sebagian besar peserta, terutama anak muda, datang murni untuk mengisi waktu luang dan menikmati suasana sore di pesisir.

Kombinasi antara pemandangan langit senja, angin laut yang sejuk, serta aktivitas fisik ringan membuat Lampulo menjadi lokasi healing yang terjangkau. Dengan biaya nol rupiah dan akses yang mudah, tempat ini menjadi alternatif wisata yang digemari oleh warga Banda Aceh.

Pesisir Lampulo bukanlah destinasi wisata dengan fasilitas modern, namun justru di situlah letak keistimewaannya. Aktivitas berburu kerang mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan penghargaan terhadap makanan yang didapatkan melalui usaha sendiri. Lebih jauh lagi, tempat ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan kembali terhubung dengan alam.

Ketika senja mulai turun dan bayangan perahu nelayan memanjang, para pencari kerang satu per satu meninggalkan area tersebut. Mereka pulang dengan pakaian basah dan tangan kotor oleh lumpur, namun dengan hati yang ringan dan wajah penuh senyum.

Wisata Kerang Lampulo membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal. Terkadang, pengalaman paling berharga justru ditemukan di hamparan lumpur sederhana yang menawarkan keheningan, interaksi hangat, dan hasil bumi yang diambil langsung dari tangan sendiri.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close