“Kalau GPT-3 itu masih kayak ngobrol sama anak SMA. GPT-4 mulai terasa kayak mahasiswa. Tapi GPT-5 ini… beda. Rasanya kayak diskusi sama profesor beneran,” kata Altman dalam jumpa pers singkat.
Bukan Chatbot Biasa
Yang bikin banyak orang penasaran, GPT-5 katanya nggak cuma jago ngerespon cepat, tapi juga bisa mikir. Bukan mikir kayak manusia sepenuhnya sih, tapi udah bisa nunjukin logika, langkah-langkah kerja, bahkan kasih penjelasan dari mana jawaban itu datang.
Kalau sebelumnya banyak yang protes soal “halusinasi AI”, alias jawaban ngawur, GPT-5 dijanjikan lebih jujur. Lebih bisa dibilangin, gitu. Dalam pengujian internal, model ini bisa bikin software dari nol, ngejawab soal-soal kompleks, bahkan diskusi filosofis — dan masih masuk akal.
OpenAI juga menyasar komunitas developer. GPT-5 didesain untuk jadi semacam asisten pintar buat ngoding, nyari bug, atau bantu ngerancang aplikasi. Ini mirip langkah Anthropic lewat Claude Code, juga Elon Musk lewat Grok.




















