Kasus HIV Banda Aceh Tembus 942, Farid Minta Kader Remaja Turun Edukasi

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net — Kasus HIV/AIDS di Banda Aceh tercatat mencapai 942 kasus secara kumulatif sejak 2008 hingga Agustus 2026. Kondisi itu mendorong Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, meminta kader remaja Posyandu ikut mengambil peran dalam edukasi pencegahan.

Farid menyebut angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2008 yang saat itu tercatat 10 kasus. Dari total kumulatif 942 kasus, sebanyak 771 merupakan kasus HIV dan 171 kasus AIDS.

“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujar Farid saat membuka kegiatan penyuluhan dan edukasi kesehatan bagi remaja di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” tersebut berlangsung selama dua hari, 29–30 September, dan diikuti 50 remaja putri dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo.

Farid memaparkan, pada 2008 terdapat 10 kasus yang terdiri dari sembilan HIV dan satu AIDS. Jumlah itu menjadi 36 kasus pada 2018, kemudian meningkat menjadi 147 kasus pada 2024.

Sementara hingga Agustus 2026 tercatat 68 kasus baru, terdiri dari 49 HIV dan 19 AIDS.

Menurut Farid, tingginya angka tersebut perlu diikuti dengan penguatan pengetahuan remaja. Ia meminta kader Posyandu tidak berhenti sebagai peserta kegiatan, tetapi meneruskan informasi yang diperoleh kepada teman sebaya dan masyarakat di gampong.

“Dengan pengetahuan yang tepat, remaja akan menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang benar, meluruskan stigma, dan mengajak masyarakat bersama-sama mencegah penularan HIV/AIDS,” katanya.

Ia mendorong kader memahami tiga hal, yakni mengenali risiko, mencegah penularan, dan menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Farid menekankan edukasi harus diberikan secara tepat dan tidak dengan cara menakut-nakuti. Menurutnya, pengetahuan mengenai perilaku berisiko, kesehatan reproduksi, serta bahaya penyalahgunaan NAPZA menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Ia juga meminta kader menjadi contoh bagi lingkungan masing-masing dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjauhi rokok, vape, NAPZA, serta perilaku yang berisiko.

“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” pesannya.

Selain pencegahan, Farid meminta stigma terhadap ODHA dihilangkan. Ia mengatakan orang dengan HIV/AIDS tetap membutuhkan dukungan agar tidak takut menjalani pengobatan.

“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Ustaz Febri Sugianto dari Thibbun Nabawi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Ia menyoroti pola makan, olahraga, kebersihan, tingkat stres, serta penguatan ibadah sebagai bagian dari pola hidup sehat remaja.

Materi lainnya disampaikan drg Supriayadi R, M.Kes dari Dinas Kesehatan Banda Aceh mengenai perilaku berisiko remaja, seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS. Sementara dr Cut Nonda Maracilu, Sp.OG membawakan materi tentang hidup sehat bebas HIV/AIDS.

Farid menegaskan Komisi IV DPRK Banda Aceh akan terus mendukung program kesehatan yang menyasar generasi muda.[*]