Habanusantara.net— Setiap pagi, Muhammad Rasya Fadilla selalu punya kebiasaan yang membuat Nur Laila tersenyum. Pemuda 18 tahun itu menyapa ibunya, mencium pipinya, lalu berpamitan sebelum beraktivitas.
Kini, kebiasaan sederhana itu tinggal kenangan.
Rasya, putra sulung dari empat bersaudara, meninggal dunia setelah baru 22 hari menjalani pendidikan di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh. Ia kemudian dipulangkan ke rumah keluarganya di Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, dalam peti jenazah.
Bagi Nur Laila, Rasya bukan sekadar anak pertama. Ia adalah penyemangat keluarga.
“Dia penyemangat Bunda. Asal bangun pagi ketawa, ‘Bunda…’, gitu diciumnya selalu. Pas mau pergi selalu salam dia,” kenang Nur Laila dengan suara bergetar.
Rasya sebelumnya berangkat ke Poltekpel Malahayati dengan membawa cita-cita menjadi seorang perwira muda. Ia bahkan membayangkan suatu hari menikah dengan prosesi pedang pora.
Cita-cita itu terhenti setelah Rasya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu (27/9/2026) pukul 16.14 WIB.





