Wisata

Kubah Tsunami Gurah, Monumen Keimanan yang Bertahan dari Amukan Bencana

×

Kubah Tsunami Gurah, Monumen Keimanan yang Bertahan dari Amukan Bencana

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Di tengah hamparan hijau Gampong Gurah, Aceh Besar, sebuah kubah masjid berwarna putih berdiri tegak, menjulang tanpa badan masjid yang melengkapinya. Struktur kubah yang sendirian ini bukan sekadar sisa bangunan, ia adalah monumen sunyi, saksi bisu keganasan Tsunami 2004 yang kini menjadi destinasi wisata religi dan refleksi bagi banyak orang, termasuk Lestari (35).

​Bagi Lestari, yang merupakan warga asli Aceh Besar, mengunjungi Kubah Masjid Gurah ini terasa seperti menunaikan janji batin. Tempat ini, yang sering disebut sebagai Kubah Tsunami, mengajarkan lebih banyak daripada buku sejarah. Kubah ini terlempar hingga beberapa kilometer dari lokasi aslinya, namun tetap utuh.

​“Setiap saya datang ke sini, rasanya seperti mengulang kembali ingatan pahit itu. Tapi bukan untuk larut dalam kesedihan,” tutur Lestari, saat ia berdiri di bawah bayangan megah kubah tersebut, menatap bekas-bekas luka di permukaannya.

“Saya datang untuk mencari penguatan. Melihat kubah ini, kita tahu betapa hebatnya cobaan itu, tapi juga betapa besarnya kuasa Allah yang menyelamatkan simbol-simbol-Nya,” ujarnya.

​Kubah yang terpisah dari masjid aslinya ini adalah ikon ketahanan spiritual masyarakat Aceh. Dalam derasnya air bah dan reruntuhan, kubah ini seolah berlayar dan mendarat di lokasi yang kini menjadi tempat peringatan. Pemandangan ini menciptakan kontras yang menusuk, kehancuran yang total di sekitar, namun ketegasan sebuah simbol keimanan yang tetap berdiri.

​Bagi Lestari, Tsunami bukan hanya peristiwa di masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang membentuk karakternya hari ini.

​“Saya kehilangan beberapa kerabat. Dulu, jika orang bicara Tsunami, yang terbayang adalah rasa takut. Tapi sekarang, Tsunami adalah pengingat untuk tidak pernah putus asa,” ujar ibu dua anak ini sambil menundukkan kepala.

“Di tempat ini, saya sering melihat orang-orang berdoa, bukan hanya warga lokal, tapi juga peziarah dari luar. Kami semua datang dengan niat yang sama, mengambil pelajaran dari musibah,” ungkapnya.

​Kunjungan ke Kubah Tsunami di Gampong Gurah tidak hanya menawarkan pemandangan bersejarah, tetapi juga pengalaman yang mendalam, menjadikannya bagian penting dari wisata religi di Aceh. Tempat ini sunyi, damai, dan dirancang untuk memancing kontemplasi. Plakat-plakat di sekitar situs menceritakan bagaimana alam bisa menjadi hakim yang paling keras, namun juga bagaimana keimanan menjadi jangkar terkuat.

​Di sekitar kubah, Lestari memperhatikan sekelompok anak muda yang sedang mendengarkan pemandu lokal. Mereka tampak serius menyerap setiap cerita tentang detik-detik mengerikan kala air laut naik. Ia merasakan kelegaan, bahwa ingatan kolektif ini tidak akan pernah pudar.

​“Yang unik dari kubah ini, dan yang membuat saya selalu kembali, adalah energinya,” imbuhnya.

Lestari menjelaskan, suaranya kini terdengar lebih mantap. “Kubah ini mengajarkan bahwa setelah semua kehancuran, yang tersisa adalah keimanan. Itu alasan mengapa Aceh bangkit begitu cepat. Kami punya Allah, dan kubah ini adalah pengingat visualnya,” katanya.

​Keputusan pemerintah daerah untuk menjaga dan memelihara situs-situs seperti Kubah Tsunami ini sebagai bagian dari wisata religi dipandang Lestari sebagai langkah tepat. Tempat-tempat ini bukan sekadar museum, melainkan madrasah terbuka. Ia menjadi jembatan bagi generasi muda Aceh untuk memahami sejarah mereka, dan bagi wisatawan untuk merasakan kedalaman spiritual masyarakat Serambi Mekkah.

​Lestari pun berharap, para pengunjung yang datang ke Kubah Tsunami Gurah tidak hanya fokus pada kisah tragisnya, tetapi pada mukjizat kecil yang terkandung di dalamnya.

​“Saya harap semua orang yang datang ke sini pulang dengan hati yang lebih tenang dan iman yang lebih kuat. Kita harus melihat kubah ini sebagai simbol bahwa badai pasti berlalu, dan setelah badai, akan ada ketenangan yang lebih besar,” tutup Lestari, sebelum ia meninggalkan area kubah, membawa serta memori yang terawat dan semangat yang baru.

​Kubah Tsunami di Gampong Gurah, Aceh Besar, terus berdiri, kokoh melawan waktu dan pelupa. Ia adalah pengingat abadi bahwa di balik trauma terbesar, terdapat pelajaran keimanan yang paling berharga.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close