Lawan TBC dari Lingkungan Terdekat, Dinkes Libatkan Gampong dan Kader Kesehatan

Redaksi
Sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat Banda Aceh
Sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat Banda Aceh
A-AA+A++

Habanusantara.net — Upaya pengendalian tuberkulosis (TBC) di Banda Aceh tidak hanya dilakukan melalui layanan medis. Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh juga memperkuat peran gampong, kader kesehatan, keluarga dan masyarakat untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus mengatasi stigma terhadap penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan stigma masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan TBC. Sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman keliru sehingga penderita enggan memeriksakan diri atau terbuka mengenai kondisinya.

“Stigma terhadap pasien TBC masih menjadi kendala. Ada yang menganggap TBC sebagai penyakit guna-guna, ada yang malu jika diketahui menderita TBC, bahkan masih ada anggapan bahwa TBC hanya menyerang kelompok masyarakat miskin,” kata Wahyudi.

Menurutnya, stigma dapat membuat penemuan kasus terlambat. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar risiko penularan kepada anggota keluarga maupun orang-orang di lingkungan sekitar.

Karena itu, Dinkes Banda Aceh terus melakukan edukasi secara berkelanjutan dengan melibatkan petugas puskesmas, kader kesehatan hingga aparatur gampong.

Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gejala, cara penularan, pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan dini ketika muncul keluhan yang mengarah pada TBC.

Wahyudi menegaskan TBC dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Karena itu, pasien tidak seharusnya dikucilkan, tetapi perlu mendapatkan dukungan selama menjalani pengobatan.

Selain edukasi, Dinkes juga menjalankan program berbasis masyarakat untuk mempercepat penemuan kasus. Petugas melakukan kunjungan rumah kepada pasien untuk memastikan pengobatan berjalan sesuai prosedur.

Kader kesehatan turut dilibatkan dalam pendampingan pasien, termasuk membantu memantau kepatuhan minum obat.

“Kami juga melakukan skrining secara aktif untuk menemukan kasus lebih awal. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pengobatan bisa dimulai sehingga risiko penularan dapat ditekan,” ujarnya.

Edukasi tidak hanya diberikan kepada pasien, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar. Materinya mencakup tanda dan gejala TBC, cara penularan, langkah pencegahan serta layanan pemeriksaan dan pengobatan di fasilitas kesehatan.

Wahyudi menyebut gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam yang tidak kunjung sembuh dan berkeringat pada malam hari.

“Pencegahan yang paling efektif adalah edukasi yang terus menerus. Masyarakat harus memahami gejala TBC dan mengetahui ke mana harus mendapatkan layanan kesehatan ketika mengalami keluhan,” katanya.

Dinkes Banda Aceh berharap keterlibatan gampong, kader kesehatan dan masyarakat dapat memperkuat penemuan kasus sejak dini sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap pasien TBC.

Menurut Wahyudi, pengendalian TBC membutuhkan keterlibatan masyarakat, mulai dari mengenali gejala, melakukan pemeriksaan lebih awal hingga memberikan dukungan kepada pasien agar menyelesaikan pengobatan sampai sembuh.[***]