Habanusantara.net – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal tuberkulosis (TBC) yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan segera di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan gejala utama TBC yang perlu diwaspadai masyarakat adalah batuk terus-menerus selama lebih dari dua pekan. Gejala tersebut umumnya disertai tanda lain seperti batuk berdahak, batuk berdarah, sesak napas, penurunan berat badan, hingga demam berkepanjangan.
“Gejala utama TBC adalah batuk terus menerus selama lebih dari dua minggu. Biasanya juga disertai gejala tambahan seperti batuk berdahak atau berdarah, sesak napas, berat badan menurun, dan demam. Jangan menunggu sampai batuk berdarah baru memeriksakan diri,” kata Wahyudi.
Menurutnya, deteksi dini menjadi salah satu kunci penting dalam pengendalian TBC. Semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan semakin kecil risiko penularan kepada orang lain.
Wahyudi menjelaskan, TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius. Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan diimbau segera mendatangi puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk menjalani pemeriksaan.
Selain deteksi dini, keberhasilan pengobatan juga sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat hingga tuntas. Untuk kasus TBC sensitif obat (TBC SO), masa pengobatan rata-rata berlangsung antara enam hingga sembilan bulan.
“Pengobatan TBC memang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena itu pasien harus disiplin menjalani pengobatan sampai selesai agar benar-benar sembuh dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain,” ujarnya.
Namun, menjaga kepatuhan pasien selama masa pengobatan bukan perkara mudah. Dinkes Banda Aceh mencatat sejumlah tantangan yang kerap dihadapi pasien maupun tenaga kesehatan dalam proses pengobatan TBC.
Beberapa di antaranya adalah munculnya efek samping obat, adanya penyakit penyerta yang diderita pasien, serta lamanya durasi pengobatan yang membuat sebagian pasien merasa jenuh dan memilih berhenti berobat sebelum waktunya.
Tantangan juga lebih besar pada pasien anak usia di bawah lima tahun. Menurut Wahyudi, kelompok usia tersebut sering kesulitan menyampaikan keluhan atau efek samping yang dirasakan setelah mengonsumsi obat sehingga membutuhkan pengawasan lebih intensif dari keluarga dan tenaga kesehatan.
Selain itu, kurangnya dukungan keluarga juga menjadi faktor yang dapat menghambat keberhasilan pengobatan. Padahal, peran keluarga sangat penting untuk memastikan pasien tetap rutin mengonsumsi obat sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Pasien TBC membutuhkan dukungan penuh dari keluarga. Pengobatan yang berlangsung berbulan-bulan tentu tidak mudah dijalani sendiri. Karena itu, keterlibatan keluarga menjadi faktor penting agar pasien tidak putus berobat,” kata Wahyudi.
Ia menambahkan, kepatuhan menjalani terapi hingga selesai tidak hanya penting bagi kesembuhan pasien, tetapi juga untuk mencegah munculnya kasus TBC resisten obat yang penanganannya jauh lebih kompleks dan membutuhkan waktu pengobatan lebih lama.
Karena itu, Dinkes Banda Aceh terus mendorong masyarakat untuk mengenali gejala sejak dini, segera melakukan pemeriksaan ketika mengalami keluhan yang mengarah pada TBC, serta menjalani pengobatan secara disiplin apabila dinyatakan positif terinfeksi.
“Semakin cepat ditemukan dan diobati, maka risiko penularan dapat ditekan. Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami gejala TBC,” pungkasnya.[***]





