Habanusantara.net — Belum seluruh puskesmas di Banda Aceh memiliki layanan dan fasilitas penanganan tuberkulosis (TBC) yang lengkap. Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menerapkan sistem pelayanan berbasis klaster.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan sistem tersebut diterapkan untuk mengintegrasikan pelayanan TBC dengan layanan kesehatan yang tersedia di masing-masing puskesmas.
“Belum seluruh puskesmas memiliki layanan dan fasilitas penanganan TBC yang memadai. Saat ini puskesmas sudah menggunakan sistem pelayanan berbasis klaster,” kata Wahyudi.
Dalam sistem tersebut, pelayanan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Klaster II menangani pelayanan kesehatan ibu dan anak, Klaster III melayani kelompok dewasa dan lanjut usia, Klaster IV berfokus pada surveilans TBC, sedangkan Klaster V menangani layanan laboratorium dan farmasi.
Menurut Wahyudi, pembagian tersebut memungkinkan pasien TBC tetap memperoleh pelayanan secara berkesinambungan, mulai dari pemeriksaan, pemantauan kondisi hingga pengobatan.
“Dengan sistem ini, pelayanan TBC tetap bisa berjalan secara terintegrasi. Pasien mendapatkan layanan sesuai kebutuhan pada masing-masing klaster,” ujarnya.
Penguatan layanan menjadi perhatian karena kasus TBC yang masih ditemukan di Banda Aceh cukup tinggi. Data Dinkes mencatat terdapat 1.617 pasien TBC sensitif obat (TBC SO) dan 17 pasien TBC resisten obat (TBC RO) yang sedang menjalani pengobatan.
Penanganan TBC juga tidak hanya dilakukan melalui puskesmas. Dinkes Banda Aceh menyebut layanan tersebut didukung 12 rumah sakit pemerintah dan swasta, 11 puskesmas, 22 klinik, serta empat dokter praktik mandiri yang terlibat dalam pelayanan TBC.
Selain pengobatan, upaya pencegahan dan penemuan kasus terus dilakukan melalui penyuluhan, sosialisasi di tingkat gampong, kunjungan rumah pasien, pelibatan kader kesehatan dan skrining.
Wahyudi mengatakan deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC. Semakin cepat pasien ditemukan dan mendapatkan pengobatan, semakin cepat pula upaya memutus risiko penularan dapat dilakukan.
Untuk kebutuhan pengobatan, ketersediaan obat antituberkulosis (OAT) kombinasi disebut masih mencukupi. Namun, persediaan obat lepasan masih terbatas dan menjadi perhatian dalam pelayanan.
Wahyudi mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan atau berkeringat pada malam hari segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Penanganan TBC harus dilakukan secara bersama-sama. Semakin cepat kasus ditemukan dan diobati, maka risiko penularan di masyarakat juga dapat ditekan,” katanya.[***]





