63 Persen Anak di Banda Aceh Belum Pernah Divaksin Dasar

Redaksi
A-AA+A++

habanusantara.net – Rendahnya cakupan imunisasi dasar anak di Kota Banda Aceh menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Banda Aceh. Hingga saat ini, cakupan imunisasi dasar lengkap tercatat baru mencapai 33 persen, sementara sebanyak 63 persen anak masih berstatus zero dose atau belum pernah menerima vaksin dasar sama sekali.

Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena dapat meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan angka anak zero dose yang masih tinggi menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

“Data menunjukkan 63 persen anak masih berstatus zero dose atau belum pernah menerima vaksin DPT, Hepatitis B, dan Hib sama sekali. Ini tentu tidak bisa kita anggap sebagai kondisi yang biasa,” kata Illiza beberapa waktu lalu.

Menurutnya, rendahnya cakupan imunisasi tidak hanya berdampak pada kesehatan individu anak, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar menjadi lebih rentan terpapar penyakit menular dan berpotensi memperluas penyebaran penyakit di lingkungan sekitarnya.

Illiza mengungkapkan, sejumlah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi masih ditemukan dalam jumlah yang cukup tinggi di Aceh maupun Banda Aceh. Data yang dimiliki pemerintah menunjukkan Aceh mencatat 263 kasus campak, dengan 119 kasus di antaranya terjadi di Banda Aceh.

Selain campak, kasus pertusis atau batuk rejan juga masih ditemukan. Di sisi lain, tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian dengan jumlah kasus yang telah mencapai lebih dari 1.600 kasus.

“Rendahnya cakupan imunisasi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap penyakit menular,” ujarnya.

Kondisi tersebut bukan terjadi dalam waktu singkat. Berdasarkan hasil pemantauan UNICEF, cakupan imunisasi di Banda Aceh selama lima tahun terakhir konsisten berada di bawah 50 persen.

Artinya, selama bertahun-tahun sebagian besar bayi di Banda Aceh tidak memperoleh perlindungan dasar melalui imunisasi lengkap. Situasi ini dinilai perlu segera dibenahi agar tidak berdampak lebih luas terhadap kesehatan masyarakat di masa mendatang.

Sebagai langkah percepatan, Pemerintah Kota Banda Aceh kini memperkuat layanan imunisasi di seluruh puskesmas dan posyandu. Selain itu, pemerintah juga melakukan pemetaan sasaran secara rinci hingga tingkat gampong melalui sistem by name by address untuk memastikan anak-anak yang belum menerima imunisasi dapat teridentifikasi dengan jelas.

Pendekatan jemput bola juga terus digencarkan dengan melibatkan kader posyandu dan tenaga kesehatan yang mendatangi langsung rumah-rumah warga.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjangkau keluarga yang selama ini belum membawa anaknya ke fasilitas kesehatan guna mendapatkan imunisasi dasar.

Di samping memperluas layanan, Pemko Banda Aceh juga meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi. Pemerintah berupaya menangkal berbagai informasi keliru dan keraguan terhadap vaksin yang masih menjadi salah satu penyebab rendahnya cakupan imunisasi.

Illiza menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam mencegah penyakit berbahaya pada anak.

“Imunisasi itu aman, penting, dan menyelamatkan nyawa. Bukan hanya melindungi anak yang diimunisasi, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitarnya,” tegasnya.[***]