Martabak Durian Samudera Pase, Legitnya Bikin Pelintas Jalan Rela Berhenti di Geudong

Redaksi
Kuliner Martabak Durian Samudra Pase
Kuliner Martabak Durian Samudra Pase
A-AA+A++

Habanusantara.net — Arus kendaraan di jalur lintas Medan–Banda Aceh yang melintasi kawasan Geudong kerap mendadak melambat. Bukan karena kemacetan, melainkan aroma durian yang tajam dan menggoda dari Martabak Durian Samudera Pase yang seolah “menarik” para pelintas untuk berhenti sejenak, mencicipi kuliner legendaris yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang di jalur tersebut.

Di sanalah Martabak Durian Samudera Pase berdiri. Lebih dari sekadar tempat makan, ia telah menjelma menjadi bagian dari perjalanan banyak orang—tempat melepas lelah sekaligus menikmati rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Saat berkunjung pada siang hari, di bawah panas matahari yang menyengat, suasana di tempat ini tetap hidup. Sambil menikmati segelas es campur durian yang dingin dan menyegarkan, proses pembuatan martabak tersaji langsung di depan mata. Tepung dipipihkan dengan tangan, ditebar tipis di atas wajan panas, lalu diisi dengan daging durian kental sebelum dilipat rapi.

Baca juga : Kuah Ie Laot, Kuliner Laut Khas Aceh Utara yang Bikin Lidah Ketagihan

Ketika martabak itu matang dan disajikan, rasa manis durian langsung terasa kuat di lidah—lembut, legit, dengan sedikit sentuhan pahit khas durian yang justru memperkaya cita rasanya. Bagian luar yang gurih berpadu dengan isi yang lumer, menghadirkan sensasi sederhana namun sulit dilupakan.

Yang menarik, proses itu berlangsung tanpa jeda. Sejak datang hingga beranjak pulang, tangan-tangan terampil para pembuat martabak terus bekerja, seolah tak mengenal lelah. Api tetap menyala, wajan tetap panas, dan pesanan terus mengalir.

Martabak durian ini bukanlah usaha baru. Berdiri sejak tahun 1983, tempat ini dikenal sebagai pelopor martabak durian di Aceh. Dari usaha sederhana yang dirintis oleh Haji Tengku Muhammad Rasyid, kini tradisi tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, Amir Hamzah, yang menjaga resep dan cita rasa tetap konsisten hingga sekarang.

Baca juga : Utoh Ishak dan Api Rencong, Menjaga Warisan Aceh yang Kian Redup

Salah satu pembuat martabak, Kardi, menegaskan bahwa keunikan rasa menjadi alasan mengapa tempat ini tetap dicari hingga kini.

“Martabak Samudera Pase cuma di sini. Di tempat lain kalau pun ada, rasanya pasti beda,” ujarnya.

Kepercayaan diri itu bukan tanpa alasan. Durian yang digunakan berasal dari daerah lokal, menghadirkan rasa yang lebih alami dan kuat. Tanpa banyak campuran, daging durian menjadi bintang utama, berpadu dengan adonan roti yang gurih.

Di tengah tingginya permintaan dan produksi yang terus berjalan hampir tanpa henti, menjaga kualitas menjadi tantangan tersendiri. Namun hingga kini, konsistensi rasa tetap dipertahankan—menjadi kunci utama mengapa martabak ini tetap bertahan dan dicari banyak orang.

Baca juga : Jejak Kejayaan Pasai di Makam Sultanah Nahrasiyah, Saksi Bisu Kejayaan Islam di Asia Tenggara

Tempat ini bahkan tidak mengenal waktu. Buka selama 24 jam, aktivitas memasak hampir tidak pernah berhenti. Siang atau malam, selalu ada pembeli yang datang—baik untuk menikmati langsung maupun membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Lebih dari sekadar kuliner, martabak durian ini telah menjadi identitas Geudong. Banyak orang mengenal daerah ini justru karena keberadaan martabak tersebut. Ia menjadi alasan orang singgah, berkumpul, dan berbagi cerita dalam perjalanan.

Baca juga : Pesona Masjid HM Hanafiah, Destinasi Religi Aceh Utara yang Viral dan Curi Perhatian Musafir

Sebagai duta wisata, Muqsal Mina melihat keberadaan kuliner seperti ini memiliki nilai yang lebih dari sekadar rasa.

Duta Wisata Aceh Utara memperlihatkan Martabak Durian Samudra Pasai [Foto/HO Habanusantara/Muqsalmina]
Duta Wisata Aceh Utara Nursyifa Syawani memperlihatkan Martabak Durian Samudra Pasai [Foto/HO Habanusantara/Muqsalmina]

“Kuliner seperti martabak durian ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi identitas daerah yang mampu menarik orang untuk singgah. Ini yang perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap menjadi kebanggaan Aceh Utara,” ujarnya.

Senada dengan itu, Nursyifa Syawani menambahkan bahwa potensi kuliner lokal seperti Martabak Durian Samudera Pase perlu terus dipromosikan sebagai bagian dari daya tarik wisata daerah. Menurutnya, pengalaman menikmati kuliner khas di tengah perjalanan menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan.

“Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tapi juga pengalaman. Orang datang, singgah, lalu membawa cerita. Ini yang membuatnya punya nilai lebih dalam pariwisata,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi dan menjamurnya berbagai kuliner baru, Martabak Durian Samudera Pase tetap berdiri dengan cara yang sama—menjaga rasa, mempertahankan tradisi, dan menghadirkan pengalaman autentik bagi setiap orang yang singgah.

Di Geudong, martabak ini bukan hanya tentang manisnya durian. Ia adalah alasan orang berhenti di tengah perjalanan, menikmati sejenak rasa yang khas, sebelum kembali melanjutkan langkah.[***]