Jejak Kejayaan Pasai di Makam Sultanah Nahrasiyah, Saksi Bisu Kejayaan Islam di Asia Tenggara

Redaksi
Seorang Pengunjung saat berziarah ke Makam Sultanah Nahrasiyah [Foto/HO Habanusantara/Musqsal Mina]
Seorang Pengunjung saat berziarah ke Makam Sultanah Nahrasiyah [Foto/HO Habanusantara/Musqsal Mina]
A-AA+A++

Habanusantara.net, Di antara sunyi yang menyelimuti kawasan Kuta Krueng, Aceh Utara, langkah kaki pengunjung seolah diperlambat oleh suasana yang sarat makna. Di tempat inilah berdiri Makam Sultanah Nahrasiyah—sebuah situs yang tak hanya menjadi penanda akhir kehidupan seorang ratu, tetapi juga saksi bisu kejayaan peradaban Islam di masa lalu.

Tak banyak suara terdengar selain hembusan angin dan sesekali langkah peziarah yang datang silih berganti. Namun di balik kesunyian itu, tersimpan kisah besar tentang kepemimpinan, spiritualitas, dan seni yang pernah mencapai puncak kejayaannya di Samudera Pasai.

Sultanah Nahrasiyah, yang wafat pada tahun 831 Hijriah atau 1428 Masehi, bukanlah sosok biasa. Ia adalah bagian dari garis keturunan bangsawan besar Pasai, putri Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Di tangannya, kerajaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai pusat peradaban Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara.

Baca juga : Pesona Masjid HM Hanafiah, Destinasi Religi Aceh Utara yang Viral dan Curi Perhatian Musafir

Namun daya tarik utama dari situs ini bukan semata pada sosok yang dimakamkan, melainkan bagaimana kisah itu diabadikan dengan begitu halus dan mendalam. Nisan makam yang terbuat dari marmer tampak kokoh sekaligus anggun, dihiasi ukiran kaligrafi Arab yang terjaga keindahannya hingga kini. Setiap pahatan terlihat presisi, seolah dikerjakan dengan penuh kesadaran spiritual, bukan sekadar keterampilan teknis.

Kaligrafi yang menghiasi permukaan nisan didominasi oleh ayat-ayat suci dari Al-Qur’an, khususnya Surah Yasin. Dalam tradisi Islam, surah ini dikenal memiliki makna mendalam dan sering disebut sebagai “jantung Al-Qur’an”. Pemilihannya diyakini bukan tanpa alasan.

Seakan melalui ukiran tersebut, sang seniman ingin menghadirkan simbol kepemimpinan Sultanah Nahrasiyah sebagai pelindung dan penyejahtera rakyat. Surah Yasin juga memiliki makna filosofis sebagai sumber kehidupan dan keberkahan, mencerminkan peran sang ratu sebagai “jantung” bagi Pasai—dan pada masanya, Pasai sendiri adalah jantung peradaban Islam di kawasan ini.

Tulisan pada nisan juga menyebutnya sebagai Al-Malikhah Al-Mu‘azzhamah, yang berarti ratu yang diagungkan. Gelar lain, Ra-Bakhsyah Khadyu, mengisyaratkan kemurahan hati serta kebesaran jiwa seorang pemimpin perempuan di masa ketika kepemimpinan perempuan belum banyak tercatat dalam sejarah dunia.

Keindahan artistik makam ini bahkan diakui oleh para pemerhati sejarah. Salah satunya menyebut bahwa makam Sultanah Nahrasiyah termasuk di antara yang terindah di Asia Tenggara, bukan hanya karena detail ukirannya, tetapi juga karena nilai historis yang melekat di dalamnya.

Sukarno Putra, dari CISAH (Central Information of Samudra Pasai Heritage), menyebut bahwa makam ini memiliki nilai estetika dan sejarah yang luar biasa.

“Ini adalah salah satu makam terindah di Asia Tenggara,” ujarnya.

Namun ironisnya, pesona besar itu belum sepenuhnya diikuti dengan tingginya tingkat kunjungan.

Rahma, seorang pengunjung asal Medan, mengaku terkesan saat pertama kali melihat langsung situs tersebut.

“Tempatnya sangat indah dan bersejarah, tapi sayang belum terlalu dikenal luas, jadi tidak ramai,” ujarnya.

Kesunyian itulah yang justru menghadirkan pengalaman berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk berlebihan, hanya ruang refleksi yang tenang, di mana setiap pahatan seolah “berbicara” kepada siapa saja yang bersedia memahami.

Di kompleks makam, waktu terasa berjalan lebih lambat. Ornamen yang terpahat ratusan tahun lalu masih menyampaikan pesan tentang nilai-nilai kepemimpinan, keadilan, dan spiritualitas. Ia menjadi pengingat bahwa peradaban besar tidak hanya diukur dari kekuasaan, tetapi juga dari warisan nilai yang ditinggalkan.

Duta Wisata Aceh Utara Muqsal Mina saat berziarah ke Makam Sultanah Nahrasiyah [Foto/HO Habanusantara/Musqsal Mina]
Duta Wisata Aceh Utara Muqsal Mina saat berziarah ke Makam Sultanah Nahrasiyah [Foto/HO Habanusantara/Musqsal Mina]

Bagi kalangan pemerhati pariwisata, situs seperti ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi dan edukasi sejarah. Kehadirannya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas budaya Aceh yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Sebagai duta wisata, Muqsal Mina melihat situs seperti ini bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga bagian penting dari identitas daerah yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda.

“Situs seperti makam Sultanah Nahrasiyah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami jati diri sebagai masyarakat Aceh. Ini adalah warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan, agar generasi mendatang tetap mengenal sejarahnya,” ujarnya.

Makam Sultanah Nahrasiyah hari ini mungkin berdiri dalam keheningan. Namun diamnya bukanlah kosong. Ia menyimpan gema kejayaan, tentang seorang perempuan yang pernah memimpin dengan kebijaksanaan, tentang sebuah kerajaan yang menjadi pusat ilmu dan perdagangan, serta tentang peradaban Islam yang pernah bersinar terang di tanah Pasai.

Di tanah ini, sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk kembali dibaca—melalui ukiran yang tak lekang oleh waktu, melalui makna yang terus hidup, dan melalui mereka yang masih peduli untuk menjaga ingatannya.[***]